Gatal bisa berasal dari kulit di sekitar vulva, vagina, penis, skrotum, atau lipatan selangkangan. Beberapa penyebab berikut sering memiliki gejala yang tumpang tindih.
1. Gesekan dan kulit yang teriritasi
Gesekan saat hubungan seksual bisa membuat kulit genital terasa gatal, perih, atau sensitif, terutama bila kulit kering atau pelumasan kurang. Keluhan biasanya terasa pada area yang banyak mengalami kontak atau tekanan.
Iritasi juga bisa muncul setelah penggunaan sabun, pembersih genital, tisu basah berpewangi, atau produk lain pada area sensitif. Pada sebagian orang, keluhan mereda setelah pemicunya dihentikan.
2. Reaksi terhadap kondom atau pelumas
Bahan yang bersentuhan langsung dengan kulit juga perlu diperhatikan. Kondom, pelumas, spermisida, pewangi, atau bahan tertentu dalam produk perawatan pribadi bisa memicu dermatitis kontak.
American Academy of Dermatology (AAD) menjelaskan bahwa dermatitis kontak bisa menimbulkan gatal, rasa terbakar, kulit kemerahan, bengkak, atau ruam setelah kulit bersentuhan dengan bahan yang mengiritasi atau memicu reaksi alergi. Kelainan ini juga bisa muncul di area selangkangan.
3. Infeksi jamur
Infeksi jamur juga bisa menyebabkan gatal pada area genital. Pada vulvovaginal candidiasis, keluhan bisa berupa gatal pada vulva, nyeri, rasa tidak nyaman saat berhubungan atau berkemih, serta perubahan cairan vagina.
Menurut CDC, gejala tersebut tidak spesifik untuk kandidiasis sehingga keluhan saja belum cukup untuk memastikan penyebabnya. Kandidiasis vagina juga umumnya tidak tergolong infeksi yang diperoleh melalui hubungan seksual.
Pada pria, peradangan kepala penis atau balanitis juga bisa menyebabkan gatal, nyeri, kemerahan, bengkak, atau cairan dari bawah kulup. Pemicunya beragam, mulai dari jamur dan iritasi hingga IMS tertentu.