5 Kebiasaan yang Menjadi Penyebab Jamur Kaki
Kamis, 20 Agu 2026

5 Kebiasaan yang Menjadi Penyebab Jamur Kaki

Rasa gatal di sela jari, kulit mengelupas, atau kaki terasa perih mungkin awalnya terlihat seperti masalah kulit ringan. Namun, keluhan tersebut dapat menjadi tanda infeksi jamur kaki atau tinea pedis. Kondisi ini cukup umum dan diperkirakan dialami sekitar 3% populasi dunia pada suatu waktu. Tinea pedis lebih sering ditemukan pada remaja dan orang dewasa dibandingkan anak-anak.

Mengalami jamur kaki bukan berarti seseorang pasti tidak menjaga kebersihan. Ada berbagai penyebab jamur kaki, termasuk kondisi kaki yang hangat dan lembap serta paparan terhadap jamur penyebab infeksi. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa jamur penyebab tinea dapat berkembang baik di lingkungan yang hangat, gelap, dan lembap. Kabar baiknya, mengenali kebiasaan sehari-hari yang meningkatkan risiko dapat membantu Anda melakukan langkah pencegahan lebih awal.

5 Kebiasaan yang Bisa Menjadi Penyebab Jamur Kaki

Secara medis, tinea pedis merupakan infeksi kulit kaki yang umumnya disebabkan oleh kelompok jamur dermatofita. Infeksi paling sering mengenai area di antara jari kaki, meskipun telapak dan bagian lain kaki juga dapat terdampak.

Beberapa kebiasaan penyebab jamur kaki sebenarnya dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.

1. Membiarkan Kaki Lembap atau Basah Terlalu Lama

Apakah kaki lembap menyebabkan jamur? Kelembapan tidak menciptakan jamur dengan sendirinya, tetapi lingkungan yang lembap dapat mendukung pertumbuhan jamur setelah terjadi paparan.

Kaki yang tidak dikeringkan dengan baik setelah mandi, berenang, atau berolahraga dapat mempertahankan kondisi lembap, terutama di sela jari. CDC menyarankan menjaga kaki serta sela jari tetap bersih dan kering sebagai salah satu langkah penting untuk mencegah dan mengendalikan tinea pedis.

2. Memakai Sepatu Tertutup Terlalu Lama

Memakai sepatu bukan secara langsung menjadi penyebab jamur di kaki. Masalahnya muncul ketika sepatu tertutup menciptakan lingkungan hangat, gelap, dan lembap akibat keringat.

Literatur medis mencatat penggunaan alas kaki yang tertutup atau oklusif dalam waktu lama sebagai salah satu faktor risiko jamur kaki. American Academy of Dermatology (AAD) juga menyarankan memberi kesempatan sepatu mengering sebelum kembali digunakan.

Jika pekerjaan mengharuskan Anda menggunakan sepatu tertutup seharian, usahakan menjaga kaki tetap kering dan gunakan alas kaki yang memungkinkan sirkulasi udara jika kondisi memungkinkan.

3. Berjalan Tanpa Alas Kaki di Tempat Umum yang Lembap

Kebiasaan berjalan tanpa alas kaki di kamar mandi umum, kolam renang, ruang ganti, atau fasilitas olahraga juga dapat meningkatkan risiko paparan.

AAD merekomendasikan penggunaan sandal atau alas kaki tahan air di area seperti shower bersama, ruang ganti, serta sekitar kolam renang. Jamur dapat bertahan pada permukaan yang terkontaminasi dan berpindah ketika kulit melakukan kontak dengannya.

Karena alasan tersebut, kebiasaan berjalan tanpa alas kaki di tempat lembap menjadi salah satu faktor yang sering dibahas ketika mencari penyebab kutu air di kaki.

4. Kurang Menjaga Kebersihan Kaki

Tidak membersihkan kaki secara rutin serta membiarkannya dalam keadaan lembap dapat menciptakan kondisi yang mendukung infeksi.

Sebuah expert panel review tahun 2024 mengenai dermatofitosis juga memasukkan kebersihan yang kurang baik, lingkungan panas dan lembap, serta penggunaan pakaian atau perlengkapan yang oklusif sebagai faktor risiko infeksi dermatofita. Secara keseluruhan, dermatofitosis diperkirakan memengaruhi sekitar 25% populasi global, meskipun angka tersebut mencakup berbagai jenis infeksi dermatofita dan bukan hanya tinea pedis.

Menjaga kebersihan bukan berarti mencuci kaki berulang kali. Hal yang tidak kalah penting adalah mengeringkannya, terutama pada area jamur di sela jari kaki sering berkembang.

5. Jarang Mengganti Kaus Kaki yang Lembap atau Berkeringat

Kaus kaki yang basah karena keringat dapat mempertahankan kelembapan di sekitar kaki selama berjam-jam.

AAD menganjurkan mengganti kaus kaki setiap hari dan lebih sering apabila kaus kaki sudah basah. Memilih bahan yang dapat mengalirkan kelembapan dari kulit juga dapat membantu menjaga kaki tetap kering.

Karena itu, setelah olahraga atau aktivitas yang membuat kaki banyak berkeringat, sebaiknya jangan menunggu hingga malam untuk mengganti kaus kaki.

Kenali Gejala Jamur Kaki Sebelum Infeksi Bertambah Luas

Gejala tinea pedis tidak selalu sama pada setiap orang. Menurut CDC, tanda yang dapat muncul meliputi kulit merah atau berubah warna, bengkak, mengelupas, dan terasa gatal di antara jari kaki. Infeksi juga dapat mengenai telapak serta tumit dan pada kasus yang lebih berat dapat menyebabkan lepuhan.

Gejala lain yang sering dikenali adalah kulit bersisik, pecah-pecah, rasa terbakar, serta area putih dan lembap di sela jari. Namun, kulit kaki yang gatal atau mengelupas tidak selalu disebabkan jamur. Dermatitis dan kondisi kulit lainnya dapat memberikan keluhan yang mirip, sehingga pemeriksaan medis dapat diperlukan bila diagnosis tidak jelas.

Jamur Kaki Bisa Menular, Bagaimana Cara Penyebarannya?

Jamur kaki dapat menular melalui kontak dengan jamur yang berada pada kulit maupun benda dan permukaan yang terkontaminasi. Mayo Clinic menyebut jamur penyebab athlete's foot dapat ditemukan pada lantai, handuk, alas tidur, dan sepatu.

Berbagi handuk, kaus kaki, atau sepatu dengan orang yang mengalami tinea pedis sebaiknya dihindari. AAD juga menyarankan tidak berbagi handuk, linen, maupun alas kaki ketika tinggal bersama seseorang yang mengalami athlete's foot.

Hindari pula menggaruk area yang terinfeksi kemudian menyentuh bagian tubuh lain tanpa mencuci tangan. Mencuci tangan setelah mengobati area tinea direkomendasikan untuk membantu mengurangi risiko penyebaran ke area lain.

Cara Menghindari Kebiasaan Penyebab Jamur Kaki

Setelah memahami penyebab jamur kaki, langkah berikutnya adalah mengurangi kondisi yang memberikan kesempatan jamur berkembang.

Beberapa cara mencegah jamur kaki yang dapat diterapkan antara lain menjaga kaki tetap bersih dan kering, mengeringkan sela jari setelah mandi, mengganti kaus kaki setiap hari atau ketika basah, serta memastikan sepatu telah kering sebelum digunakan kembali. Gunakan pula sandal di kamar mandi umum, kolam renang, ruang ganti, dan lingkungan lembap yang digunakan banyak orang.

Bila sudah mengalami tinea pedis, pengobatan antijamur topikal seperti krim, salep, losion, atau bubuk umumnya digunakan untuk infeksi kulit. CDC menyebut terapi antijamur untuk tinea kulit biasanya digunakan selama sekitar 2 sampai 4 minggu sesuai petunjuk produk dan kondisi pasien.

Pemeriksaan Medis untuk Jamur Kaki yang Tidak Kunjung Membaik di DVX Medical

Jamur kaki yang terus berulang, bertambah luas, atau tidak kunjung membaik sebaiknya tidak hanya ditangani dengan mencoba berbagai obat sendiri. AAD menyarankan pemeriksaan dokter kulit apabila athlete's foot memburuk atau tidak menunjukkan perbaikan. Pemeriksaan juga penting karena keluhan menyerupai jamur dapat disebabkan kondisi kulit lainnya.

DVX Medical menyediakan pelayanan untuk berbagai penyakit kulit, termasuk penyakit akibat infeksi jamur. Berdasarkan informasi resmi klinik, DVX Medical memiliki dokter spesialis Dermatologi dan Venereologi serta menerapkan pendekatan evidence-based treatment untuk membantu menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien. Klinik juga menyatakan menggunakan pemeriksaan klinis dan teknologi medis dalam penanganan keluhan kulit.

Jika rasa gatal, kulit mengelupas, atau jamur di sela jari kaki terus muncul meskipun kebersihan sudah dijaga, Anda dapat mempertimbangkan konsultasi di DVX Medical agar penyebab keluhan dapat dievaluasi terlebih dahulu sebelum menentukan terapi.

DVX Medical Jakarta
Jl. Hang Lekir 2 No. 15B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
0822-6161-4215 (WhatsApp)

DVX Medical Surabaya
Jl. Dharmahusada Indah Bar. No.181, Gubeng, Surabaya, Jawa Timur
0812-1647-4538 (WhatsApp)

1. Apakah kaki yang sering berkeringat pasti menyebabkan jamur kaki?

Tidak. Keringat sendiri bukan penyebab langsung. Namun, kondisi kaki yang terus lembap dan hangat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan jamur jika terjadi paparan.

2. Apakah jamur kaki sama dengan kutu air?

Istilah kutu air umumnya digunakan untuk menyebut tinea pedis atau athlete's foot, yaitu infeksi jamur pada kulit kaki. Penyebabnya adalah jamur, bukan kutu atau parasit.

3. Apakah jamur kaki bisa menular kepada orang lain?

Bisa. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung maupun benda atau permukaan yang terkontaminasi, termasuk handuk, alas kaki, dan lantai di area bersama.

4. Berapa lama jamur kaki biasanya diobati?

Durasi pengobatan tergantung jenis obat dan tingkat infeksi. CDC menjelaskan bahwa obat antijamur topikal untuk tinea kulit umumnya digunakan selama sekitar 2 sampai 4 minggu, tetapi petunjuk setiap obat perlu diikuti dengan tepat.

5. Kapan jamur kaki sebaiknya diperiksakan ke dokter?

Pertimbangkan pemeriksaan apabila keluhan tidak membaik, semakin berat, terus kambuh, meluas, atau diagnosisnya tidak jelas. AAD menyarankan pemeriksaan dokter kulit apabila athlete's foot tidak membaik atau justru memburuk.

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Healthy Habits: Foot Hygiene.2024.
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Symptoms of Ringworm.2026.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Treatment of Ringworm.2026.
  4. American Academy of Dermatology Association.How to Prevent Athlete's Foot.Diakses 2026.
  5. Leung AKC, et al.Tinea Pedis: An Updated Review.Drugs in Context. 2023.
  6. Hill RC, et al.Expert Panel Review of Skin and Hair Dermatophytoses in an Era of Antifungal Resistance.2024.
  7. National Health Service (NHS).Athlete's Foot.Diakses 2026.
  8. Mayo Clinic.Athlete's Foot: Symptoms and Causes.2026.

Hubungi Klinik DVX Medical Jakarta Sekarang untuk Lakukan Pemeriksaan Oleh Dokter Spesialis Profesional!

Kunjungi DVX Medical Jakarta dan dapatkan Pemeriksaan yang tepat dan aman bersama dokter spesialis profesional. Jangan tunda pemeriksaan Anda, segera konsultasi sekarang agar penyakit terdeteksi lebih dini dan cepat ditangani!

Related Article

Jamur Kaki: Penyebab, Gejala, Penularan, dan Pengobatannya
Rasa gatal di sela jari kaki, kulit mengelupas, atau perih saat berjalan sering dianggap sebagai masalah kulit biasa. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda jamur kaki atau tinea pedis. Kondisi ini cukup umum dan dapat mengganggu aktivitas, terutama jika rasa gatal terus muncul atau infeksi sering kambuh. Jamur kaki umumnya bisa membaik jika ditangani sejak awal dengan perawatan yang sesuai. Tinea pedis adalah infeksi jamur pada kaki yang lebih mudah muncul saat kondisi kaki sering lembap dan tertutup. Menurut Centers for Disease Control and Prevention atau CDC, infeksi ini sering muncul di area sela jari kaki. Karena itu, penting untuk mengenali penyebab, gejala, cara penularan, dan pilihan pengobatannya sejak awal.
Eksim di Kaki: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan
Banyak pasien yang datang dengan keluhan eksim di kaki tidak datang karena gatalnya. Mereka datang karena bekasnya.
Penyebab Rontok yang Jarang Diketahui, Ternyata Bisa Dipicu Autoimun
Melihat rambut rontok di sisir atau lantai kamar mandi mungkin terasa biasa. Namun, saat jumlah rambut yang rontok semakin banyak, muncul area yang menipis, atau bahkan terbentuk kebotakan berbentuk lingkaran, kondisi ini tentu dapat menimbulkan kekhawatiran. Banyak orang menganggap penyebab rambut rontok hanya berkaitan dengan stres, faktor usia, atau penggunaan produk rambut yang kurang cocok. Faktanya, ada beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan kerontokan rambut, termasuk penyakit autoimun. Salah satu yang paling sering ditemukan adalah Alopecia Areata, yaitu gangguan autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut sehingga rambut rontok secara tiba-tiba. Artikel ini hadir untuk membantu Anda memahami berbagai penyebab rambut rontok secara lebih menyeluruh, termasuk keterkaitannya dengan kondisi autoimun, serta langkah apa yang bisa ditempuh untuk mengatasinya secara tepat dan berbasis bukti medis.