Ada beberapa alasan mengapa tinea cruris kembali setelah sempat membaik. Faktor yang paling umum berkaitan dengan lingkungan kulit, sumber infeksi yang belum teratasi, dan penggunaan terapi yang kurang tepat.
1. Selangkangan terus lembap
Jamur mudah berkembang pada area hangat dan lembap. Keringat berlebih, cuaca panas, olahraga, atau pakaian yang terlalu ketat membuat lipatan paha lebih lama basah.
Risiko juga meningkat bila pakaian dalam yang lembap tidak segera diganti. Karena itu, menjaga selangkangan tetap kering penting bukan hanya saat ruam muncul, tetapi juga setelah keluhan membaik.
American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa dermatofita tumbuh baik dalam kondisi hangat dan lembap. Kondisi tropis serta lingkungan dengan kelembapan tinggi ikut mendukung pertumbuhannya.
2. Infeksi jamur masih ada di kaki atau bagian tubuh lain
Jamur di selangkangan terkadang berasal dari area lain pada tubuh. Salah satu sumber yang penting adalah tinea pedis atau kutu air di kaki.
Jamur dari kaki bisa berpindah ke selangkangan melalui tangan, pakaian, atau handuk. Akibatnya, ruam selangkangan berulang meski keluhan sebelumnya sudah membaik.
Karena itu, dokter biasanya juga menilai apakah ada tanda infeksi jamur di kaki, kuku, atau lokasi lain saat menghadapi tinea cruris yang berulang. Literatur klinis mencatat bahwa perpindahan dermatofita dari kaki ke selangkangan memang bisa terjadi.
3. Terjadi paparan ulang
Jamur bisa bertahan pada benda yang bersentuhan dengan kulit, seperti handuk, pakaian, seprai, atau perlengkapan olahraga. Berbagi barang pribadi dengan seseorang yang memiliki infeksi jamur juga meningkatkan peluang tertular kembali.
CDC menyebut kontak kulit langsung serta benda yang terkontaminasi sebagai jalur penularan ringworm atau tinea.
Kebersihan pakaian dan barang pribadi karena itu menjadi bagian penting dalam mencegah infeksi berulang.
4. Pengobatan berhenti terlalu cepat atau tidak sesuai
Ruam yang mulai pudar sering dianggap sebagai tanda bahwa infeksi sudah hilang sepenuhnya. Akibatnya, sebagian orang menghentikan terapi lebih awal dari anjuran.
Pada kondisi lain, obat yang digunakan mungkin bukan pilihan yang tepat karena diagnosis awal belum pasti. Keluhan yang menyerupai jamur juga bisa berasal dari gangguan kulit lain.
Kasus yang terus berulang sebaiknya tidak hanya ditangani dengan mencoba berbagai krim secara bergantian tanpa evaluasi dokter.
5. Menggunakan krim yang mengandung kortikosteroid tanpa evaluasi
Krim kortikosteroid bisa mengurangi kemerahan atau gatal untuk sementara, tetapi bukan terapi utama untuk infeksi dermatofita. Penggunaan steroid pada infeksi jamur bahkan bisa mengubah tampilan lesi dan membuat diagnosis lebih sulit.
CDC menyarankan agar krim steroid tidak digunakan untuk mengobati ringworm tanpa penilaian yang sesuai karena infeksi bisa memburuk atau menyebar.
Karena itu, hindari memakai krim campuran secara berulang tanpa mengetahui kandungan dan indikasinya.
6. Ada faktor kesehatan yang meningkatkan risiko
Beberapa kondisi membuat seseorang lebih rentan mengalami tinea cruris atau infeksi yang sulit hilang. Faktor tersebut antara lain keringat berlebih, diabetes, serta kondisi yang mengganggu sistem kekebalan tubuh.
Faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan mengalami infeksi berulang. Namun, dokter mungkin perlu menilainya bila jamur selangkangan muncul berkali-kali atau sulit membaik.