Jadwal tes ulang bergantung pada situasi Anda. Ada perbedaan antara pemeriksaan konfirmasi setelah hasil skrining reaktif dan pemantauan setelah Anda menyelesaikan pengobatan.
1. Setelah hasil skrining pertama reaktif
Bila hasil pertama berasal dari satu jenis tes, dokter biasanya meminta pemeriksaan lain untuk mengonfirmasi dan melengkapi interpretasi.
Sebagai contoh, hasil RPR reaktif perlu dinilai bersama tes treponemal. Sebaliknya, hasil skrining treponemal reaktif mungkin memerlukan pemeriksaan RPR kuantitatif untuk mengetahui aktivitas serologis dan memperoleh nilai awal sebagai pembanding.
Pemeriksaan lanjutan ini tidak harus menunggu berbulan-bulan. Dokter dapat menjadwalkannya segera, terutama bila Anda memiliki luka genital, ruam, riwayat kontak seksual berisiko, atau pasangan yang terdiagnosis sifilis.
2. Setelah pengobatan sifilis stadium awal
Sifilis primer, sekunder, dan laten awal termasuk dalam kelompok stadium awal. Setelah terapi, dokter akan memantau perubahan gejala dan nilai titer RPR atau VDRL.
Menurut CDC, Anda dengan sifilis primer atau sekunder umumnya menjalani evaluasi klinis dan serologis pada bulan ke-6 dan ke-12 setelah pengobatan. Pemeriksaan lebih sering mungkin diperlukan bila risiko infeksi ulang tinggi atau tindak lanjut sulit dipastikan.
Sejumlah pedoman lain menyarankan pemeriksaan pada bulan ke-3, ke-6, dan ke-12 untuk sifilis primer, sekunder, atau laten awal. Perbedaan jadwal ini menunjukkan bahwa dokter perlu menyesuaikan pemantauan dengan kondisi setiap Anda.
3. Setelah pengobatan sifilis laten lanjut
Sifilis laten lanjut atau sifilis dengan durasi yang tidak diketahui memerlukan pemantauan lebih panjang. CDC merekomendasikan tes nontreponemal kuantitatif pada bulan ke-6, ke-12, dan ke-24 setelah pengobatan.
Dokter akan membandingkan hasil tersebut dengan titer pada saat terapi dimulai. Oleh sebab itu, menyimpan hasil laboratorium awal sangat penting.
4. Ketika muncul gejala baru atau paparan ulang
Anda tidak perlu menunggu jadwal kontrol rutin bila mengalami:
- Luka baru pada area genital, anus, atau mulut.
- Ruam yang tidak biasa, termasuk pada telapak tangan atau kaki.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Gangguan penglihatan, pendengaran, keseimbangan, atau saraf.
- Kontak seksual baru tanpa proteksi.
- Pasangan yang baru mendapat diagnosis sifilis.
Kondisi tersebut membutuhkan evaluasi lebih cepat karena bisa mengarah pada infeksi ulang, respons terapi yang belum memadai, atau keterlibatan organ tertentu.