Dokter menentukan pengobatan sifilis berdasarkan stadium infeksi. Secara umum, sifilis terbagi menjadi sifilis primer, sekunder, laten, dan lanjut atau tersier.
- Sifilis Primer
Sifilis Primer
Sifilis primer sering muncul sebagai luka kecil atau ulkus pada penis, vulva, vagina, anus, bibir, atau mulut. Luka ini sering tidak terasa nyeri sehingga sebagian orang tidak menyadarinya.
Luka sifilis bisa menghilang dalam beberapa minggu tanpa pengobatan. Namun, hilangnya luka tidak berarti infeksi telah sembuh. Bakteri tetap bisa berkembang dan masuk ke stadium berikutnya.
- Sifilis Sekunder
Sifilis Sekunder
Pada tahap ini, pasien bisa mengalami ruam pada kulit, termasuk telapak tangan dan telapak kaki. Beberapa orang juga mengalami demam, nyeri otot, kelelahan, pembesaran kelenjar getah bening, luka di mulut, atau kelainan pada area kelamin.
Gejala sifilis sekunder sering menyerupai masalah kulit atau infeksi lain. Karena itu, dokter perlu melakukan pemeriksaan untuk membedakan sifilis dari kondisi lain yang memiliki gejala serupa.
- Sifilis Laten
Sifilis Laten
Sifilis laten tidak selalu menimbulkan keluhan. Dokter biasanya menemukan infeksi ini melalui tes darah atau skrining IMS.
Pasien dengan sifilis laten tetap membutuhkan pemeriksaan karena dokter perlu menilai apakah infeksi termasuk sifilis laten awal atau sifilis laten dengan durasi yang belum jelas. Perbedaan tersebut memengaruhi regimen pengobatan yang akan digunakan.
- Sifilis Lanjut dan Komplikasi
Sifilis Lanjut dan Komplikasi
Tanpa penanganan yang tepat, sifilis bisa memengaruhi sistem saraf, mata, telinga, jantung, dan pembuluh darah. Keluhan seperti gangguan penglihatan, pendengaran menurun, sakit kepala berat, kelemahan anggota tubuh, atau perubahan kesadaran memerlukan pemeriksaan medis segera.
WHO menyebutkan bahwa pengobatan sifilis bergantung pada stadium penyakit. Pada sifilis stadium awal, dokter umumnya menggunakan regimen obat yang berbeda dibandingkan sifilis laten lanjut atau sifilis dengan komplikasi tertentu.