Pemeriksaan sifilis umumnya terbagi menjadi tes treponemal dan tes nontreponemal. Kedua jenis tes tersebut mengukur antibodi yang berbeda dan memiliki fungsi klinis yang tidak sama.
Tes treponemal, seperti TPHA, TPPA, EIA, CIA, atau FTA-ABS, mendeteksi antibodi yang secara khusus berkaitan dengan bakteri Treponema pallidum. Sementara itu, tes nontreponemal seperti RPR dan VDRL lebih sering digunakan untuk menilai aktivitas penyakit dan memantau respons terhadap pengobatan.
Menurut rekomendasi laboratorium CDC, antibodi pada tes treponemal umumnya menetap setelah pengobatan dan tidak bisa dipakai untuk membedakan infeksi aktif dengan infeksi lama yang sudah diobati. Oleh karena itu, hasil TPHA atau TPPA yang tetap reaktif bukan bukti otomatis bahwa terapi gagal.
1. Antibodi Treponemal Bisa Bertahan Sangat Lama
Setelah seseorang pernah terkena sifilis, sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi terhadap Treponema pallidum. Antibodi tersebut sering tetap terdeteksi selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.
Kondisi ini sering disebut sebagai “jejak serologis”. Tes masih membaca riwayat infeksi, meskipun pasien telah menerima terapi yang tepat dan tidak lagi mengalami tanda infeksi aktif.
Karena alasan tersebut, dokter tidak menggunakan TPHA atau tes treponemal lain sebagai satu-satunya indikator kesembuhan. Tes tersebut lebih sesuai untuk membantu mengonfirmasi bahwa seseorang pernah terinfeksi sifilis.
2. Nilai RPR atau VDRL Tidak Langsung Menjadi Negatif
Berbeda dari tes treponemal, nilai RPR atau VDRL biasanya menurun secara bertahap setelah terapi. Penurunan tersebut membutuhkan waktu dan tidak selalu langsung mencapai hasil nonreaktif.
Menurut CDC, titer tes nontreponemal umumnya turun sedikitnya empat kali lipat dalam 12 bulan setelah pengobatan, terutama pada pasien yang menjalani terapi saat sifilis masih berada pada stadium awal. Namun, kecepatan penurunan setiap pasien tidak selalu sama.
Sebagai contoh, bila titer awal RPR sebesar 1:32, perubahan menjadi 1:8 menunjukkan penurunan empat kali lipat. Dokter sering menilai perubahan seperti ini sebagai respons serologis yang bermakna, meskipun hasilnya masih tertulis reaktif.
Karena itu, fokus evaluasi bukan hanya pada status reaktif atau nonreaktif, tetapi juga pada pola perubahan titernya.