DVX Surabaya

Senin. selasa. jumat 12.00-21.00 | Rabu. kamis. sabtu 11.00-18.00

DVX Jakarta

Senin - jumat 11.00-19.00 | Sabtu 10.00-15.00

Pasangan Memiliki Herpes Genital: Bagaimana Mengurangi Risiko Penularan?

Pasangan Memiliki Herpes Genital: Bagaimana Mengurangi Risiko Penularan?

16 jam yang lalu

Mengetahui pasangan terkena herpes genital sering memunculkan pertanyaan tentang keamanan hubungan seksual. Apakah pasangan yang tidak terinfeksi pasti akan tertular? Apakah hubungan intim masih aman?

Herpes genital memang bisa menular melalui kontak seksual, termasuk saat tidak ada luka yang terlihat. Namun, pasangan bisa mengambil beberapa langkah untuk mencegah penularan herpes genital atau setidaknya menekan risikonya. Strategi ini mencakup mengenali tanda kekambuhan, menghindari hubungan seksual pada waktu tertentu, memakai kondom secara konsisten, hingga membahas terapi antivirus dengan dokter.

Bagaimana Herpes Genital Menular ke Pasangan?

Herpes genital berasal dari infeksi herpes simplex virus (HSV), terutama HSV-2, meski HSV-1 juga bisa menyebabkan infeksi pada area genital. Virus menular terutama melalui kontak kulit dengan area yang terinfeksi saat aktivitas seksual vaginal, anal, maupun oral.

Luka atau lepuhan aktif meningkatkan risiko penularan. Namun, tidak adanya luka bukan berarti risiko hilang sepenuhnya.

HSV bisa keluar dari permukaan kulit tanpa menimbulkan keluhan atau luka yang tampak. Kondisi ini dikenal sebagai asymptomatic viral shedding. Menurut CDC, pelepasan virus tanpa gejala merupakan salah satu alasan herpes genital tetap bisa menular ketika seseorang sedang tidak mengalami kekambuhan yang jelas. Karena itu, pencegahan sebaiknya tidak hanya berfokus pada saat luka muncul.

Baca juga: Herpes Genital pada Pria dan Wanita, Kenali Gejala Awal dan Cara Penanganannya

Apakah Pasangan Pasti Tertular Herpes Genital?

Tidak. Memiliki pasangan dengan herpes genital tidak berarti seseorang pasti tertular.

Risiko penularan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tipe HSV, ada atau tidaknya gejala, frekuensi kekambuhan, penggunaan kondom, serta terapi yang dijalani pasangan yang terinfeksi.

Risiko juga tidak bisa dibuat menjadi nol selama masih ada kontak dengan area yang terinfeksi. Kondom, misalnya, membantu menurunkan risiko tetapi tidak menutup seluruh permukaan kulit genital yang mungkin mengandung virus.

Pendekatan yang lebih realistis ialah menggabungkan beberapa langkah pencegahan sekaligus.

Bagaimana Mencegah Penularan Herpes Genital dari Pasangan?

1. Hindari hubungan seksual saat gejala muncul

Hindari hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral ketika pasangan sedang mengalami luka, lepuhan, atau gejala awal kekambuhan.

Sebelum luka muncul, sebagian orang merasakan sensasi kesemutan, gatal, nyeri, atau rasa terbakar di area yang biasa mengalami herpes. Fase ini disebut gejala prodromal dan tetap perlu dianggap sebagai periode berisiko.

NHS menyarankan untuk hindari aktivitas seksual sejak muncul sensasi yang mengarah pada kekambuhan sampai luka sembuh.

2. Gunakan kondom secara konsisten

Kondom membantu mengurangi kontak langsung dengan sebagian area genital sehingga risiko transmisi HSV ikut turun.

Namun, kondom tidak memberi perlindungan penuh terhadap herpes genital. Virus masih bisa berada pada kulit di sekitar kemaluan, pangkal penis, skrotum, bokong, atau area lain yang tidak tertutup kondom.

WHO menegaskan bahwa penggunaan kondom yang benar dan konsisten mengurangi risiko penularan, tetapi HSV tetap mungkin menyebar melalui area kulit yang tidak tertutup.

Karena itu, penggunaan kondom sebaiknya berjalan bersama langkah pencegahan lainnya.

3. Kenali pola kekambuhan bersama pasangan

Pasangan yang sudah lama hidup dengan herpes genital sering mulai mengenali tanda awal kekambuhan. Catatan sederhana tentang waktu munculnya gejala dan pemicu yang dirasakan bisa membantu mengenali pola tersebut.

Keterbukaan juga penting. Pasangan sebaiknya merasa nyaman memberi tahu ketika muncul sensasi awal atau luka sehingga hubungan seksual bisa ditunda sampai kondisi membaik.

Cara ini tidak menghilangkan kemungkinan penularan tanpa gejala, tetapi membantu menghindari kontak seksual ketika risiko sedang lebih tinggi.

4. Diskusikan terapi antivirus supresif dengan dokter

Pada sebagian pasien dengan HSV-2 genital simptomatik, dokter mungkin mempertimbangkan terapi antivirus supresif atau terapi harian untuk mengurangi kekambuhan. Terapi tersebut juga bisa menjadi salah satu bagian dari strategi untuk menekan risiko transmisi ke pasangan.

CDC menyebut terapi antivirus supresif tertentu terbukti menurunkan risiko penularan HSV-2 pada pasangan heteroseksual dengan status HSV yang berbeda, terutama bila dikombinasikan dengan kondom dan menghindari hubungan seksual saat kekambuhan.

Terapi supresif tidak selalu perlu untuk setiap orang. Jenis HSV, frekuensi kekambuhan, riwayat kesehatan, serta kondisi pasangan perlu dokter pertimbangkan sebelum memilih terapi.

Apakah Herpes Bisa Menular Saat Tidak Ada Gejala?

Ya. Herpes genital tetap bisa menular meski tidak terlihat luka atau lepuhan.

Virus HSV dapat keluar dari permukaan kulit secara berkala tanpa menimbulkan gejala. Karena seseorang sulit mengetahui kapan proses ini terjadi, strategi pencegahan tetap penting meski pasangan tampak sehat.

Fakta ini juga menjelaskan mengapa hanya menghindari hubungan seksual ketika luka terlihat belum cukup untuk menghilangkan risiko transmisi. Penggunaan kondom, komunikasi dengan pasangan, serta penilaian terapi bersama dokter menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.

Perlukah Pasangan yang Tidak Bergejala Tes Herpes?

Tidak semua orang tanpa gejala otomatis membutuhkan tes herpes. Pemilihan tes perlu disesuaikan dengan riwayat gejala, paparan, serta tujuan pemeriksaan.

Pada pasangan dari seseorang dengan HSV-2 genital simptomatik, CDC menyebut tes antibodi HSV tipe spesifik dapat dipertimbangkan untuk mengetahui apakah pasangan sudah memiliki antibodi HSV atau masih berisiko tertular.

Namun, tes darah herpes memiliki keterbatasan. Hasil positif tidak menunjukkan kapan infeksi terjadi atau dari siapa seseorang mendapat virus.

Jika muncul luka atau lepuhan baru pada area genital, sebaiknya konsultasi ketika lesi masih ada. Dokter bisa menilai bentuk lesi dan menentukan jenis tes yang paling sesuai.

Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Dokter?

Konsultasi medis layak dipertimbangkan jika pasangan baru mendapat diagnosis herpes genital, kekambuhan sering terjadi, atau Anda ingin memahami risiko penularan secara lebih spesifik.

Evaluasi dokter juga penting bila Anda mengalami luka, lepuhan, rasa terbakar, nyeri, atau keluhan baru pada area genital setelah kontak seksual. Gejala saja belum cukup untuk memastikan herpes karena beberapa penyakit lain bisa tampak serupa.

Konsultasi juga sangat penting jika salah satu pasangan sedang hamil atau merencanakan kehamilan. Herpes genital memerlukan perhatian khusus pada kehamilan karena infeksi yang baru didapat, terutama pada akhir kehamilan, berkaitan dengan risiko penularan HSV kepada bayi saat persalinan.

Konsultasi Herpes Genital di DVX Medical Jakarta

Menjalani hubungan dengan pasangan yang memiliki herpes genital membutuhkan informasi yang tepat, bukan rasa takut atau stigma. Risiko setiap pasangan juga tidak selalu sama.

Dokter spesialis kulit dan kelamin di DVX Medical Jakarta akan menilai riwayat gejala, kondisi pasangan, serta faktor risiko lain. Dokter kemudian menentukan apakah tes diperlukan dan membahas pilihan penanganan maupun strategi untuk mengurangi risiko penularan.

Jika Anda atau pasangan masih ragu tentang keamanan hubungan seksual setelah diagnosis herpes genital, konsultasi medis membantu memperoleh saran yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

1. Apakah boleh berhubungan seksual dengan pasangan yang memiliki herpes genital?

Boleh, tetapi risiko penularan tetap ada. Hindari hubungan seksual ketika pasangan mengalami luka, lepuhan, atau tanda awal kekambuhan dan pertimbangkan penggunaan kondom secara konsisten.

2. Apakah kondom bisa mencegah herpes genital sepenuhnya?

Tidak. Kondom menurunkan risiko, tetapi tidak melindungi seluruh permukaan kulit genital. HSV masih bisa menular melalui kulit yang tidak tertutup kondom.

3. Apakah herpes menular jika tidak ada luka?

Ya. HSV bisa menyebar melalui asymptomatic viral shedding, yaitu pelepasan virus dari kulit tanpa gejala yang terlihat. Karena itu, pencegahan tetap diperlukan di luar masa kekambuhan.

4. Apakah terapi antivirus bisa mencegah pasangan tertular herpes?

Terapi antivirus supresif pada pasien tertentu dengan HSV-2 simptomatik bisa menurunkan risiko transmisi, tetapi tidak menghilangkannya. Dokter perlu menentukan apakah terapi ini sesuai berdasarkan kondisi pasien.

5. Apakah perlu tes herpes jika pasangan positif tetapi saya tidak punya gejala?

Tidak selalu. Tes tipe spesifik mungkin dipertimbangkan dalam situasi tertentu, terutama pada pasangan dari pasien dengan HSV-2 genital simptomatik. Konsultasi dokter membantu menentukan apakah tes memberi manfaat dalam kondisi Anda.

6. Apakah HSV-1 dan HSV-2 sama-sama bisa menyebabkan herpes genital?

Ya. HSV-1 maupun HSV-2 bisa menyebabkan herpes genital. Namun, HSV-2 lebih sering berkaitan dengan kekambuhan genital berulang, sedangkan HSV-1 genital umumnya memiliki frekuensi kekambuhan dan pelepasan virus yang lebih rendah.

7. Bagaimana jika salah satu pasangan dengan herpes sedang hamil?

Sampaikan riwayat herpes genital kepada dokter atau dokter kandungan. Penilaian medis penting karena risiko herpes neonatal paling tinggi ketika ibu baru terinfeksi menjelang akhir kehamilan.

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Herpes: STI Treatment Guidelines. 2022
  2. World Health Organization (WHO). Herpes Simplex Virus. 2025
  3. National Health Service (NHS). Genital Herpes. 2023
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Genital Herpes. 2024

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Risiko penularan herpes genital serta kebutuhan tes atau terapi bisa berbeda pada setiap orang. Untuk penilaian, diagnosis, pemeriksaan, dan penanganan yang sesuai, konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK/Sp.DVE).

Hubungi Klinik DVX Medical Jakarta Sekarang untuk Lakukan Pemeriksaan Oleh Dokter Spesialis Profesional!

Kunjungi DVX Medical Jakarta dan dapatkan Pemeriksaan yang tepat dan aman bersama dokter spesialis profesional. Jangan tunda pemeriksaan Anda, segera konsultasi sekarang agar penyakit terdeteksi lebih dini dan cepat ditangani!

Related Article

Apa Itu Herpes Labialis dan Bagaimana Cara Mengobatinya?

Herpes labialis, atau yang lebih dikenal sebagai cold sore a...

7 Cara Mencegah Penularan Herpes Genital ke Pasangan

Herpes genital adalah salah satu infeksi menular seksual yan...

Perbedaan Herpes Genital dan Herpes Mulut, Bagaimana Cara Membedakannya?

Artikel ini akan membantu Anda memahami perbedaan lengkap an...

Risiko Penularan HIV dari Orang dengan Riwayat HIV ke Pasangan

Menjalin hubungan harmonis dengan pasangan memerlukan saling...

Herpes Simpleks dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Kulit

Herpes simpleks adalah infeksi yang disebabkan oleh virus he...