Tidak selalu. Hasil sifilis reaktif belum tentu memastikan bahwa seseorang sedang mengalami sifilis aktif.
Interpretasinya bergantung pada tes mana yang reaktif dan bagaimana hasil pemeriksaan lainnya. Beberapa kemungkinan yang perlu dokter pertimbangkan antara lain:
1. Infeksi sifilis aktif
Hasil reaktif pada tes nontreponemal dan tes treponemal, terutama jika sesuai dengan gejala atau riwayat paparan, bisa mengarah pada infeksi aktif. Dokter kemudian menentukan stadium penyakit untuk memilih terapi yang sesuai.
2. Riwayat sifilis yang pernah diobati
Seseorang yang pernah menjalani pengobatan sifilis mungkin masih memiliki hasil treponemal reaktif. Kondisi ini sering disebut sebagai jejak antibodi dari infeksi sebelumnya.
Dokter perlu memeriksa riwayat pengobatan, hasil titer terdahulu, dan perubahan titer saat ini. Pasien sebaiknya tidak mengulang obat tanpa evaluasi karena hasil tes yang tetap reaktif tidak selalu berarti terapi sebelumnya gagal.
3. Hasil positif palsu
Tes nontreponemal seperti RPR atau VDRL bisa menunjukkan hasil reaktif meskipun pasien tidak terinfeksi sifilis. Kondisi tersebut dikenal sebagai positif palsu biologis.
Beberapa faktor yang mungkin berkaitan dengan hasil positif palsu meliputi kehamilan, penyakit autoimun, infeksi tertentu, usia lanjut, vaksinasi baru-baru ini, atau penggunaan obat suntik.
Menurut CDC, orang dengan tes nontreponemal reaktif perlu menjalani tes treponemal untuk mengonfirmasi diagnosis karena beberapa kondisi yang tidak berkaitan dengan sifilis bisa memicu hasil positif palsu.
4. Perbedaan hasil antara jenis tes
Pada sebagian pasien, tes treponemal menunjukkan hasil reaktif sementara RPR atau VDRL nonreaktif. Pola ini bisa terjadi pada:
- Infeksi lama yang sudah diobati
- Infeksi sifilis sangat dini
- Infeksi laten
- Hasil skrining positif palsu
Laboratorium atau dokter mungkin menyarankan tes treponemal kedua dengan metode berbeda untuk membantu memperjelas hasil.