Secara sederhana, hasil reaktif berarti pemeriksaan menemukan tanda yang berkaitan dengan sifilis di dalam sampel darah. Namun, arti klinisnya bergantung pada metode tes yang digunakan.
Pemeriksaan sifilis umumnya melibatkan dua kelompok tes, yaitu tes nontreponemal dan tes treponemal. Tes nontreponemal mencakup RPR dan VDRL, sedangkan tes treponemal mencakup TPHA, TPPA, FTA-ABS, atau beberapa jenis rapid test sifilis.
Menurut CDC, hasil skrining treponemal yang positif perlu dievaluasi bersama tes nontreponemal kuantitatif, seperti RPR atau VDRL dengan nilai titer, untuk membantu menentukan langkah penanganan pasien. Artinya, dokter tidak hanya melihat kata “reaktif” atau “positif”, tetapi juga pola hasil pemeriksaan secara keseluruhan.
Hasil RPR atau VDRL Reaktif
RPR dan VDRL termasuk tes nontreponemal. Dokter sering menggunakan hasil tes ini untuk membantu menilai aktivitas penyakit dan memantau respons setelah pengobatan.
Jika hasil RPR atau VDRL reaktif, laboratorium atau dokter biasanya mempertimbangkan pemeriksaan treponemal sebagai konfirmasi. Hasil reaktif pada RPR atau VDRL tidak selalu langsung memastikan sifilis, karena beberapa kondisi lain juga bisa memengaruhi hasil pemeriksaan.
Nilai titer juga penting. Contohnya, hasil dapat tertulis sebagai 1:2, 1:8, atau 1:32. Dokter akan membandingkan nilai tersebut dengan kondisi klinis dan, bila diperlukan, hasil kontrol setelah terapi. Jangan membandingkan angka titer sendiri tanpa arahan dokter karena interpretasinya perlu melihat konteks pemeriksaan secara lengkap.
Hasil TPHA atau Tes Treponemal Reaktif
Tes treponemal mendeteksi antibodi yang berkaitan dengan bakteri penyebab sifilis. Hasil TPHA, TPPA, atau rapid test treponemal yang reaktif menunjukkan bahwa tubuh pernah membentuk respons antibodi terhadap sifilis.
Namun, hasil tersebut tidak selalu membedakan infeksi yang masih aktif dengan infeksi lama yang pernah diobati. CDC menjelaskan bahwa antibodi treponemal umumnya dapat menetap setelah pengobatan sehingga tes ini tidak digunakan sendirian untuk menilai apakah infeksi masih aktif atau sudah tertangani.
Karena itu, bila hasil tes treponemal reaktif, dokter biasanya akan meninjau hasil RPR atau VDRL, riwayat terapi sifilis, faktor risiko, dan gejala yang dialami.