Keputihan abnormal bukan satu jenis penyakit. Keluhan ini bisa muncul akibat perubahan keseimbangan mikroorganisme vagina, infeksi, iritasi, atau masalah kesehatan lainnya.
1. Vaginosis bakterialis
Vaginosis bakterialis terjadi ketika keseimbangan bakteri di dalam vagina berubah. Kondisi ini sering menyebabkan cairan tipis berwarna putih atau abu-abu dengan bau amis.
CDC menjelaskan bahwa vaginosis bakterialis juga bisa disertai rasa gatal, nyeri, sensasi terbakar pada vagina, atau rasa perih ketika buang air kecil.
2. Kandidiasis vagina
Pertumbuhan jamur Candida yang berlebihan bisa menyebabkan keputihan putih kental dan menggumpal. Keluhan sering disertai gatal, kemerahan, atau iritasi di sekitar vulva.
3. Trikomoniasis
Trikomoniasis merupakan infeksi menular seksual akibat parasit. Kondisi ini bisa menimbulkan cairan berwarna kuning kehijauan, berbusa, berbau, serta disertai iritasi.
4. Gonore atau klamidia
Sebagian pasien dengan gonore atau klamidia tidak mengalami gejala. Pada pasien lain, infeksi bisa memicu perubahan cairan vagina, nyeri saat buang air kecil, nyeri panggul, atau perdarahan di luar menstruasi.
5. Iritasi noninfeksi
Sabun berpewangi, antiseptik, produk pembersih kewanitaan, pembalut beraroma, atau bahan kimia tertentu bisa mengiritasi area vulva dan vagina. Kondisi hormonal juga bisa memengaruhi kelembapan dan kesehatan jaringan vagina.
Karena penyebabnya beragam, penggunaan obat antijamur atau antibiotik tanpa pemeriksaan berisiko tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Baca juga: Apa Itu Trikomoniasis? Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya