1. Infeksi Penyerta yang Masih Aktif
Infeksi seperti tuberkulosis (TB), infeksi jamur, hepatitis, atau infeksi menular seksual (IMS) dapat terus mengaktifkan sistem imun dan menghambat pemulihan CD4. Bahkan infeksi yang gejalanya ringan atau tidak terasa tetap bisa memengaruhi hasil CD4.
2. Memulai Terapi Saat CD4 Sudah Sangat Rendah
ODHIV yang baru memulai terapi saat CD4 berada di angka sangat rendah membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang. Pada kondisi tertentu, kerusakan sistem imun yang terjadi sebelumnya tidak dapat pulih sepenuhnya tanpa dukungan medis tambahan.
3. Kepatuhan Minum ARV yang Tidak Konsisten
Tidak harus berhenti total. Sering terlambat minum, lupa dosis, atau jam minum yang tidak teratur dapat menyebabkan kadar obat dalam tubuh berfluktuasi dan memperlambat proses pemulihan CD4.
4. Faktor Usia
Pada usia di atas 40 tahun, kemampuan tubuh untuk meregenerasi sel imun secara alami memang menurun. Hal ini membuat kenaikan CD4 cenderung lebih lambat dan memerlukan pendekatan perawatan yang lebih komprehensif.
5. Stres Kronis dan Kesehatan Mental
Stres berkepanjangan, kecemasan, depresi, dan gangguan tidur memiliki dampak nyata terhadap sistem imun. Faktor ini sering tidak disadari, padahal sangat berpengaruh pada kemampuan tubuh meningkatkan CD4.
6. Status Gizi dan Kondisi Tubuh
Berat badan terlalu rendah, kekurangan protein, vitamin, atau gangguan penyerapan nutrisi dapat menghambat pembentukan sel imun baru. Tubuh membutuhkan kondisi fisik yang stabil untuk memulihkan CD4 secara optimal.