Berikut adalah daftar pemeriksaan yang umumnya dianjurkan untuk dilakukan secara berkala oleh ODHIV. Jenis dan frekuensi pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi pribadi dan rekomendasi dokter.
1. Pemeriksaan Status Sistem Imun
- Mengukur jumlah sel CD4 sebagai indikator kekuatan sistem imun.
- Membantu menilai risiko infeksi oportunistik.
- Umumnya dilakukan setiap 3–6 bulan.
Viral Load HIV
- Mengukur jumlah virus HIV dalam darah.
- Digunakan untuk menilai efektivitas terapi yang sedang dijalani.
- Target utama adalah viral load tidak terdeteksi.
Pemeriksaan ini menjadi dasar penting dalam pemantauan kesehatan ODHIV karena memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi sistem imun.
2. Pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS)
ODHIV memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami
IMS, dan banyak IMS yang tidak menimbulkan gejala awal. Pemeriksaan rutin dapat mencakup:
Pemeriksaan IMS penting karena infeksi yang tidak terdeteksi dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan dan memperberat kondisi sistem imun.
3. Pemeriksaan Fungsi Organ
Beberapa kondisi penyerta dan terapi jangka panjang dapat memengaruhi fungsi organ tertentu.
Pemeriksaan fungsi hati
- Penting untuk memantau kondisi hati, terutama pada ODHIV dengan riwayat hepatitis.
Pemeriksaan fungsi ginjal
- Membantu memastikan ginjal bekerja dengan baik dan mendeteksi gangguan sejak dini.
Pemantauan fungsi organ membantu menjaga kesehatan jangka panjang dan mencegah komplikasi yang tidak disadari.
4. Pemeriksaan Kesehatan Kulit dan Mulut
Masalah pada kulit dan mulut sering menjadi tanda awal gangguan kesehatan pada ODHIV. Pemeriksaan ini meliputi:
- Infeksi jamur
- Luka atau ruam yang sulit sembuh
- Kelainan kulit tertentu
Pemeriksaan kulit dan mulut secara rutin dapat membantu mendeteksi perubahan kecil yang sering kali terlewat jika tidak diperiksa oleh tenaga kesehatan.
5. Pemeriksaan Kesehatan Umum dan Metabolik
Selain pemeriksaan khusus terkait HIV, ODHIV juga perlu memantau kesehatan umum, seperti:
- Tekanan darah
- Kadar gula darah
- Kolesterol
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencegah risiko penyakit jantung, diabetes, dan gangguan metabolik lainnya yang dapat muncul seiring waktu.