Perlukah Beralih dari Tenof EM ke PrEP Berbasis TAF?
Kamis, 20 Agu 2026

Perlukah Beralih dari Tenof EM ke PrEP Berbasis TAF?

Sudah lama menggunakan Tenof EM tetapi mulai khawatir dengan efek samping PrEP jangka panjang, terutama pada ginjal atau tulang? Kekhawatiran seperti ini cukup sering muncul, apalagi jika PrEP digunakan dalam waktu lama. Tenof EM yang mengandung tenofovir disoproxil fumarate atau TDF memang sudah lama digunakan sebagai PrEP dan terbukti efektif. Namun, fungsi ginjal tetap perlu dipantau selama pemakaian.

Kabar baiknya, sekarang tersedia pilihan PrEP berbasis TAF atau tenofovir alafenamide. Salah satu pilihan PrEP berbasis TAF yang dikenal adalah kombinasi emtricitabine dan tenofovir alafenamide, yang antara lain tersedia dengan nama Descovy. Meski begitu, pilihan yang lebih baru tidak selalu berarti lebih baik untuk semua orang. Karena itu, penting memahami perbedaan PrEP TAF dan Tenof EM sebelum memutuskan apakah perlu beralih.

Perbedaan Tenof EM dan PrEP Berbasis TAF Secara Umum

Tenof EM dan PrEP berbasis TAF sama-sama menggunakan tenofovir, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Tenof EM mengandung kombinasi emtricitabine dan tenofovir disoproxil fumarate atau FTC/TDF. Sementara itu, PrEP berbasis TAF menggunakan emtricitabine dan tenofovir alafenamide atau FTC/TAF.

Perbedaan utamanya terletak pada cara obat membawa tenofovir ke dalam tubuh. TAF bekerja dengan membawa tenofovir ke bagian tubuh yang membutuhkannya dengan kadar obat di darah yang lebih rendah dibanding TDF. Hal inilah yang kemudian berkaitan dengan perbedaan efek pada ginjal dan tulang.

CDC juga menyebut bahwa PrEP oral dapat menurunkan risiko tertular HIV melalui hubungan seksual hingga sekitar 99% bila digunakan sesuai petunjuk. Artinya, dalam pembahasan Tenof EM vs TAF, keduanya tetap dapat menjadi pilihan yang efektif jika digunakan dengan benar dan sesuai kondisi pengguna.

Apakah PrEP Berbasis TAF Lebih Ramah terhadap Fungsi Ginjal?

Salah satu alasan seseorang mulai mempertimbangkan PrEP untuk kesehatan ginjal adalah kekhawatiran terhadap penggunaan TDF dalam jangka panjang.

Pada sebagian pengguna, TDF dapat memengaruhi fungsi ginjal. Namun, CDC menjelaskan bahwa perubahan fungsi ginjal yang terjadi biasanya ringan dan dapat membaik setelah obat dihentikan. Meski begitu, gangguan ginjal yang lebih serius tetap dapat terjadi pada kondisi tertentu.

CDC menggunakan nilai eCrCl, yaitu perkiraan kemampuan ginjal menyaring darah, sebagai salah satu pertimbangan. FTC/TDF digunakan bila nilainya di atas 60 mL/menit, sedangkan FTC/TAF dapat digunakan mulai dari 30 mL/menit Karena itu, PrEP untuk pengguna dengan gangguan ginjal sebaiknya ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan hanya berdasarkan kekhawatiran. TAF juga tetap membutuhkan perhatian terhadap fungsi ginjal dan bukan berarti bebas risiko.

Bagaimana Perbedaan Tenof EM dan PrEP TAF terhadap Kesehatan Tulang?

Selain ginjal, kesehatan tulang juga sering menjadi pertimbangan saat membahas TDF vs TAF untuk PrEP. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa TDF dapat menyebabkan penurunan kecil pada kepadatan mineral tulang. Sementara itu, TAF cenderung memiliki pengaruh yang lebih ringan terhadap tulang. Efek PrEP terhadap tulang tetap perlu dilihat bersama faktor lain, seperti usia, riwayat osteoporosis, berat badan, pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Apakah Semua Pengguna Tenof EM Perlu Beralih ke PrEP Berbasis TAF?

Tidak semua pengguna Tenof EM perlu beralih ke TAF. Jika selama menggunakan Tenof EM fungsi ginjal tetap baik, tidak ada masalah tulang, dan PrEP dapat diminum dengan teratur, dokter mungkin tidak melihat alasan untuk mengganti regimen.

Sebaliknya, keputusan ganti PrEP Tenof EM dapat dipertimbangkan jika hasil pemeriksaan menunjukkan penurunan fungsi ginjal, ada faktor risiko masalah tulang, atau terdapat kondisi kesehatan lain yang membuat TAF lebih sesuai.

Ada hal penting lain yang perlu diketahui. Berdasarkan rekomendasi CDC dan indikasi FDA di Amerika Serikat, FTC/TAF belum direkomendasikan untuk orang yang memiliki risiko HIV melalui receptive vaginal sex karena efektivitasnya pada kelompok ini belum diteliti secara memadai.

Jadi, PrEP TAF bukan sekadar “versi lebih baru” dari Tenof EM. Pemilihannya tetap harus menyesuaikan kondisi dan jenis risiko HIV masing-masing pengguna.

Faktor Lain PrEP TAF yang Harus Dipertimbangkan

Meski TAF memiliki profil yang lebih baik pada ginjal dan tulang, ada hal lain yang juga perlu diperhatikan.

Dalam studi DISCOVER, median kenaikan berat badan pada minggu ke-96 tercatat sekitar 1,7 kg pada kelompok FTC/TAF, sedangkan pada FTC/TDF sekitar 0,5 kg. Perubahan pada kadar kolesterol dan trigliserida juga ditemukan pada sebagian peserta.

Karena itu, CDC menyarankan pemeriksaan kolesterol dan trigliserida sebelum menggunakan FTC/TAF, serta pemantauan berat badan dan profil lemak selama penggunaan.

Hal ini bukan berarti Descovy untuk PrEP pasti menyebabkan kenaikan berat badan atau kolesterol tinggi. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa keputusan memilih TAF tetap perlu melihat kesehatan secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada ginjal dan tulang.

Pemeriksaan Apa yang Perlu Dilakukan Sebelum Mengganti Jenis PrEP?

Sebaiknya jangan menghentikan atau mengganti PrEP sendiri. Sebelum berpindah dari Tenof EM ke TAF, dokter biasanya akan mempertimbangkan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Tes HIV untuk memastikan status tetap negatif
  • Pemeriksaan fungsi ginjal
  • Skrining hepatitis B
  • Pemeriksaan infeksi menular seksual sesuai faktor risiko
  • Pemeriksaan kolesterol dan trigliserida jika mempertimbangkan FTC/TAF
  • Evaluasi kesehatan tulang jika memiliki faktor risiko
  • Review obat lain yang sedang digunakan dan riwayat kesehatan

CDC juga merekomendasikan tes HIV secara berkala selama penggunaan PrEP oral, umumnya setiap 3 bulan, serta pemantauan fungsi ginjal sesuai usia dan kondisi pengguna. Pemeriksaan seperti ini membantu memastikan bahwa keputusan mengganti jenis PrEP benar-benar berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar karena merasa ada pilihan obat yang lebih baru.

Sudah Lama Menggunakan Tenof EM? Evaluasikan Pilihan PrEP Bersama DVX Medical

Jika Anda sudah lama menggunakan Tenof EM dan mulai mempertimbangkan PrEP berbasis TAF, tidak ada salahnya melakukan evaluasi terlebih dahulu. Konsultasi tidak berarti Anda pasti harus mengganti PrEP. Tujuannya justru untuk memastikan bahwa Tenof EM yang digunakan saat ini masih sesuai, atau apakah ada pilihan lain yang lebih cocok.

DVX Medical melayani konsultasi terkait PrEP, PEP, HIV, dan infeksi menular seksual di Jakarta dan Surabaya. Pemeriksaan dilakukan dengan pendekatan medis dan dapat disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Konsultasi juga dapat membantu menilai fungsi ginjal, riwayat penggunaan PrEP, faktor risiko, serta pilihan regimen yang paling sesuai.

Dengan evaluasi yang tepat, Anda bisa memahami perbedaan PrEP TAF dan Tenof EM tanpa perlu mengambil keputusan sendiri hanya berdasarkan kekhawatiran atau informasi yang belum tentu sesuai dengan kondisi pribadi.

DVX Medical Jakarta
Jl. Hang Lekir 2 No. 15B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
0822-6161-4215 (WhatsApp)

DVX Medical Surabaya
Jl. Dharmahusada Indah Bar. No.181, Gubeng, Surabaya, Jawa Timur
0812-1647-4538 (WhatsApp)

1. Apakah Tenof EM aman digunakan dalam jangka panjang?

Pada banyak pengguna, Tenof EM dapat digunakan dalam jangka panjang selama fungsi ginjal tetap baik dan dilakukan pemeriksaan rutin. Pemantauan tetap penting karena TDF dapat memengaruhi ginjal pada sebagian orang.

2. Apakah PrEP TAF lebih baik daripada Tenof EM?

Belum tentu. TAF cenderung memiliki profil yang lebih baik untuk ginjal dan tulang, tetapi pilihan terbaik tetap tergantung kondisi kesehatan, jenis risiko HIV, serta faktor lain seperti berat badan dan profil kolesterol.

3. Apakah TAF cocok untuk orang yang memiliki masalah ginjal?

FTC/TAF dapat digunakan pada beberapa pengguna dengan fungsi ginjal yang lebih rendah dibanding batas penggunaan FTC/TDF. Namun, pemilihannya tetap perlu melalui pemeriksaan dokter.

4. Bisakah langsung mengganti Tenof EM dengan Descovy?

Sebaiknya tidak. Dokter perlu memastikan status HIV, fungsi ginjal, hepatitis B, obat lain yang digunakan, dan kesesuaian FTC/TAF sebelum melakukan pergantian.

5. Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan selama menggunakan PrEP?

Pemeriksaan umumnya meliputi tes HIV berkala, fungsi ginjal, skrining infeksi menular seksual, serta pemeriksaan lain sesuai kondisi. Pada pengguna FTC/TAF, pemantauan berat badan dan profil lipid juga dapat diperlukan.

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Clinical Guidance for PrEP. 2026.
  2. Mayer KH, Molina JM, Thompson MA, et al.Emtricitabine and Tenofovir Alafenamide vs Emtricitabine and Tenofovir Disoproxil Fumarate for HIV Pre-exposure Prophylaxis (DISCOVER). The Lancet, 2020.
  3. Ogbuagu O, Ruane PJ, Podzamczer D, et al.Long-term Safety and Efficacy of Emtricitabine and Tenofovir Alafenamide vs Emtricitabine and Tenofovir Disoproxil Fumarate for HIV-1 Pre-exposure Prophylaxis: Week 96 Results. The Lancet HIV, 2021.
  4. National Institutes of Health, Clinicalinfo.HIV.gov.Descovy Patient Drug Record. NIH.
  5. DVX Medical.Konsultasi PrEP & PEP di DVX Medical Surabaya: Aman, Rahasia dan Profesional. 2025.

Hubungi Klinik DVX Medical Jakarta Sekarang untuk Lakukan Pemeriksaan Oleh Dokter Spesialis Profesional!

Kunjungi DVX Medical Jakarta dan dapatkan Pemeriksaan yang tepat dan aman bersama dokter spesialis profesional. Jangan tunda pemeriksaan Anda, segera konsultasi sekarang agar penyakit terdeteksi lebih dini dan cepat ditangani!

Related Article

Psoriasis Kulit Kepala dan Kerontokan Rambut: Apakah Keduanya Berhubungan?
Kerontokan rambut saat psoriasis kulit kepala sedang aktif adalah hal yang dialami banyak pasien. Namun psoriasis kulit kepala tidak bekerja dengan cara menghancurkan folikel rambut secara langsung. Pada kebanyakan kasus, hubungan antara keduanya bersifat tidak langsung: peradangan, garukan, plak tebal, dan gangguan pada kulit kepala yang mempengaruhi pertumbuhan rambut untuk sementara waktu.