DVX Surabaya

Senin. selasa. jumat 12.00-21.00 | Rabu. kamis. sabtu 11.00-18.00

DVX Jakarta

Senin - jumat 11.00-19.00 | Sabtu 10.00-15.00

Tes IMS Apa Saja yang Perlu Dilakukan Setelah Hubungan Berisiko?

Tes IMS Apa Saja yang Perlu Dilakukan Setelah Hubungan Berisiko?

18 jam yang lalu

Setelah hubungan seksual yang dianggap berisiko, pertanyaan yang sering muncul adalah: tes apa saja yang perlu diperiksa? Jawabannya berbeda untuk setiap orang. Jenis tes IMS setelah hubungan berisiko bergantung pada bentuk kontak seksual, bagian tubuh yang terpapar, penggunaan kondom, riwayat vaksinasi, gejala, serta waktu sejak paparan.

Tes yang umum dipertimbangkan antara lain tes HIV, sifilis, gonore, dan klamidia. Pada kondisi tertentu, dokter juga perlu menilai risiko hepatitis B, hepatitis C, trikomoniasis, atau infeksi lain.

Waktu tes juga penting. Tes yang terlalu awal bisa memberi hasil negatif meski infeksi masih berada dalam masa jendela. Karena itu, konsultasi membantu menentukan jenis tes dan kapan tes perlu dilakukan atau diulang.

Tes IMS Apa Saja yang Perlu Dilakukan Setelah Hubungan Berisiko?

Tidak ada satu paket tes yang tepat untuk semua orang. Menurut CDC, jenis pemeriksaan IMS perlu mempertimbangkan usia, riwayat seksual, praktik seksual, gejala, dan faktor risiko masing-masing individu. Banyak IMS juga tidak menimbulkan gejala sehingga kondisi tubuh yang terasa normal belum tentu menyingkirkan infeksi.

Beberapa tes yang sering menjadi bagian dari evaluasi meliputi:

1. Tes HIV

Tes HIV bertujuan mengetahui apakah terjadi infeksi HIV. Jenis tes yang tersedia memiliki masa jendela berbeda.

CDC menjelaskan bahwa tes antigen/antibodi laboratorium dari darah vena umumnya mulai mendeteksi HIV sekitar 18–45 hari setelah paparan. Tes antibodi memiliki masa jendela yang lebih panjang, sekitar 23–90 hari, sedangkan nucleic acid test (NAT) umumnya sekitar 10–33 hari.

Hasil negatif yang diperoleh terlalu dekat dengan waktu paparan belum tentu menjadi hasil akhir. Dokter mungkin menyarankan tes ulang sesuai jenis tes dan waktu paparan.

Jika paparan HIV baru terjadi kurang dari 72 jam, jangan menunggu sampai waktu tes tiba. Konsultasi medis perlu dilakukan secepatnya untuk menilai apakah profilaksis pasca pajanan atau PEP HIV diperlukan. PEP paling efektif jika dimulai sesegera mungkin dan tidak direkomendasikan dimulai lebih dari 72 jam setelah paparan.

2. Tes Sifilis

Tes sifilis biasanya memakai sampel darah untuk mencari tanda infeksi Treponema pallidum, bakteri penyebab sifilis.

Sifilis bisa menimbulkan luka yang tidak terasa nyeri, ruam, atau keluhan lain. Namun, sebagian orang tidak menyadari gejala awalnya. Karena antibodi memerlukan waktu untuk terbentuk, tes yang terlalu dini juga belum tentu menangkap infeksi.

Pada paparan yang dinilai berisiko dan hasil awal masih negatif, CDC mencantumkan tes ulang sifilis sekitar 4–6 minggu dan 3 bulan setelah paparan dalam situasi ketika infeksi pada sumber paparan belum bisa disingkirkan.

3. Tes Gonore dan Klamidia

Gonore dan klamidia termasuk infeksi bakteri yang sering tidak menimbulkan gejala. Jika muncul keluhan, seseorang mungkin mengalami nyeri atau rasa panas saat buang air kecil, cairan tidak biasa dari penis atau vagina, nyeri panggul, maupun keluhan pada rektum atau tenggorokan.

Dokter umumnya menggunakan tes NAAT (nucleic acid amplification test) untuk mencari materi genetik bakteri penyebab gonore dan klamidia.

Lokasi pengambilan sampel perlu sesuai dengan lokasi paparan. Selain urine atau swab genital, dokter mungkin menyarankan swab tenggorokan setelah seks oral atau swab rektum setelah paparan melalui seks anal. CDC menekankan tes pada lokasi anatomis yang terpapar karena infeksi ekstragenital sering tidak menimbulkan keluhan.

Pada paparan yang sangat baru, hasil awal juga bisa belum menangkap infeksi. Dalam panduan pascapajanan tertentu, CDC menyebut NAAT gonore dan klamidia bisa diulang sekitar 1–2 minggu setelah paparan jika hasil awal negatif dan pasien belum mendapat terapi presumtif.

4. Tes Hepatitis B

Virus hepatitis B (HBV) bisa menular melalui hubungan seksual. Dokter akan mempertimbangkan status vaksin hepatitis B, jenis paparan, serta status hepatitis B pasangan bila diketahui.

Pada orang yang belum mendapat vaksin lengkap, dokter mungkin menyarankan vaksin hepatitis B. Jika sumber paparan diketahui positif HBsAg, penanganan pascapajanan juga bisa melibatkan hepatitis B immune globulin (HBIG), bergantung pada riwayat vaksinasi.

CDC menyarankan tindakan pencegahan pascapajanan hepatitis B dimulai sesegera mungkin saat memang ada indikasi. Untuk paparan seksual, manfaat profilaksis diperkirakan tidak melebihi 14 hari setelah paparan.

5. Apakah Hepatitis C Juga Perlu Diperiksa?

Tidak semua paparan seksual memiliki risiko hepatitis C yang sama. Penularan hepatitis C melalui hubungan seksual umumnya lebih jarang dibanding penularan melalui darah.

Namun, dokter mungkin mempertimbangkan tes berdasarkan riwayat dan faktor risiko, misalnya adanya kontak dengan darah, pasangan dengan hepatitis C, penggunaan jarum bersama, atau faktor risiko lain.

Karena kebutuhan tes berbeda pada tiap kasus, konsultasi lebih tepat daripada memilih tes sendiri hanya berdasarkan daftar paket laboratorium.

Apakah Herpes dan HPV Perlu Langsung Dites?

Tidak semua IMS cocok untuk skrining rutin pada orang tanpa gejala.

Untuk herpes genital, CDC tidak menyarankan tes darah herpes sebagai skrining rutin bagi sebagian besar orang yang tidak memiliki gejala. Tes lebih berguna ketika muncul luka, lepuhan, atau gejala genital yang sesuai sehingga dokter bisa menentukan metode pemeriksaan yang tepat.

HPV juga berbeda. Tidak ada tes umum untuk mengetahui “status HPV” seseorang segera setelah hubungan seksual. Tes HPV digunakan dalam konteks skrining serviks pada kelompok yang sesuai dengan pedoman, bukan sebagai tes langsung setelah satu kali paparan seksual.

Karena itu, semakin banyak jenis tes bukan berarti evaluasinya semakin tepat.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Tes IMS?

Waktu ideal bergantung pada infeksi yang ingin diperiksa dan jenis tesnya. Seseorang juga tidak perlu menunggu muncul gejala sebelum berkonsultasi.

Evaluasi lebih awal berguna untuk membahas jenis paparan, menentukan tes awal, menilai status vaksin hepatitis B, serta melihat kebutuhan PEP HIV jika paparan belum melewati 72 jam.

Jika tes berlangsung saat masa jendela, dokter bisa menjadwalkan tes ulang. Hasil negatif yang sangat dini perlu ditafsirkan berdasarkan waktu paparan dan jenis tes, bukan berdiri sendiri.

Sementara itu, jangan menunda konsultasi jika muncul luka atau lepuhan genital, keluar cairan tidak biasa, nyeri saat buang air kecil, ruam, nyeri panggul, pembengkakan testis, atau keluhan lain setelah hubungan seksual.

Mengapa Jenis Hubungan Seksual Mempengaruhi Tes yang Dipilih?

Dokter perlu mengetahui lokasi paparan karena tes urine atau darah saja belum tentu menjawab seluruh risiko.

Sebagai contoh, hubungan seks oral bisa menimbulkan paparan pada tenggorokan, sedangkan seks anal reseptif melibatkan rektum. Gonore atau klamidia di lokasi tersebut bisa muncul tanpa gejala.

Informasi tentang jenis kontak seksual bukan untuk menghakimi pasien. Data tersebut membantu dokter memilih sampel dan tes yang paling relevan.

Tes IMS di DVX Medical Jakarta

Jika Anda ragu tes mana yang sesuai setelah hubungan berisiko, konsultasi dengan dokter membantu menyusun pemeriksaan berdasarkan paparan dan waktunya.

Di DVX Medical Jakarta, dokter Sp.KK/Sp.DVE dapat menilai riwayat paparan, gejala, waktu sejak hubungan seksual, serta faktor risiko lain sebelum menentukan tes IMS yang relevan. Pendekatan ini membantu menghindari tes yang tidak perlu sekaligus mengurangi risiko pemeriksaan terlalu dini.

Jika paparan baru terjadi, terutama dalam 72 jam terakhir dan terdapat kekhawatiran terhadap HIV, konsultasikan kondisi secepatnya agar dokter bisa menilai langkah pascapajanan yang sesuai.

Kesimpulan

Tes IMS setelah hubungan berisiko tidak selalu berarti memeriksa semua jenis IMS sekaligus. Tes HIV, sifilis, gonore, dan klamidia sering menjadi pertimbangan utama, sedangkan hepatitis B, hepatitis C, trikomoniasis, herpes, atau pemeriksaan lain perlu disesuaikan dengan riwayat paparan dan kondisi pasien.

Waktu tes sama pentingnya dengan jenis tes. Pemeriksaan yang terlalu dini bisa menghasilkan hasil negatif saat infeksi belum terdeteksi.

Jika Anda tidak yakin mengenai jenis paparan atau waktu tes, konsultasi dengan dokter Sp.KK/Sp.DVE membantu menentukan pemeriksaan yang sesuai tanpa mengandalkan diagnosis mandiri.

1. Berapa hari setelah hubungan berisiko sebaiknya tes IMS?

Tidak ada satu waktu yang berlaku untuk semua IMS. Gonore, klamidia, sifilis, dan HIV memiliki karakteristik serta waktu deteksi berbeda. Dokter akan menyesuaikan jadwal berdasarkan tanggal paparan dan jenis tes.

2. Apakah semua IMS bisa diketahui melalui tes darah?

Tidak. HIV, sifilis, dan beberapa hepatitis bisa diperiksa melalui darah, sedangkan gonore dan klamidia umumnya memakai NAAT dari urine atau swab. Lokasi swab menyesuaikan bagian tubuh yang terpapar.

3. Jika tidak ada gejala, apakah masih perlu tes IMS?

Ya, pada orang dengan faktor risiko tertentu. Banyak IMS bisa muncul tanpa gejala, sehingga tidak adanya rasa sakit, luka, atau cairan abnormal belum cukup untuk menyingkirkan infeksi.

4. Apakah hasil tes IMS negatif satu minggu setelah berhubungan sudah pasti aman?

Belum tentu. Hasil perlu ditafsirkan sesuai jenis infeksi, metode tes, dan masa jendelanya. Dokter mungkin menyarankan tes ulang jika pemeriksaan pertama berlangsung terlalu dini.

5. Apakah tes urine saja cukup untuk mengecek semua IMS?

Tidak. Urine tidak mendeteksi semua jenis IMS dan mungkin tidak menilai infeksi pada tenggorokan atau rektum. Dokter akan memilih sampel sesuai bentuk paparan.

6. Apakah perlu tes setelah berhubungan menggunakan kondom?

Risiko umumnya lebih rendah bila kondom digunakan dengan benar sejak awal hingga selesai, tetapi tidak selalu nol. Risiko juga berbeda untuk setiap infeksi dan dipengaruhi apakah kondom robek, terlepas, atau ada kontak kulit di area yang tidak terlindungi.

7. Apa yang harus dilakukan jika hubungan berisiko baru terjadi kemarin?

Konsultasi medis sebaiknya tidak ditunda, terutama jika ada kemungkinan paparan HIV. PEP HIV perlu dimulai sesegera mungkin dan paling lambat 72 jam setelah paparan jika dokter menilai ada indikasi.

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Getting Tested for STIs. 2026
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Getting Tested for HIV. 2026C
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). STI Screening Recommendations. 2024
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Antiretroviral Postexposure Prophylaxis Recommendations. 2025
  5. World Health Organization (WHO). Sexually Transmitted Infections (STIs). 2025

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Untuk penilaian, diagnosis, serta pemeriksaan yang sesuai, konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK/Sp.DVE).

Hubungi Klinik DVX Medical Jakarta Sekarang untuk Lakukan Pemeriksaan Oleh Dokter Spesialis Profesional!

Kunjungi DVX Medical Jakarta dan dapatkan Pemeriksaan yang tepat dan aman bersama dokter spesialis profesional. Jangan tunda pemeriksaan Anda, segera konsultasi sekarang agar penyakit terdeteksi lebih dini dan cepat ditangani!

Related Article

Kapan Harus Tes Ulang Setelah Mendapat Hasil Sifilis Reaktif?

Hasil tes sifilis yang menunjukkan status reaktif sering kal...

Gatal di Kelamin Setelah Berhubungan: Apakah Selalu Karena IMS?

Gatal di area kelamin yang muncul setelah berhubungan seksua...

Tes HIV Privat Setelah Hubungan Berisiko: Kapan Waktu yang Tepat untuk Periksa?

Kekhawatiran tentang HIV sering muncul setelah hubungan seks...

Apa Saja Jenis Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)?

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit yang ditularka...

Keputihan sebagai Tanda Infeksi Menular Seksual (IMS), Apa yang Perlu Diketahui Wanita

Keputihan merupakan kondisi yang umum dialami oleh wanita da...