Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul setelah steroid dihentikan. Jika pengobatan berhasil, mengapa kondisi kulit justru tampak memburuk setelahnya?
Pertanyaan itu masuk akal. Tapi ada yang perlu dipahami tentang bagaimana steroid bekerja.
Steroid topikal menekan peradangan aktif. Ia mengurangi kemerahan, gatal, dan eksudasi dari flare yang sedang berlangsung. Tapi ia tidak menghilangkan kecenderungan kulit atopik yang membuat flare itu terjadi. Penyakit yang mendasarinya tetap ada.
Ketika steroid dihentikan, terapi yang selama ini menekan peradangan tidak lagi bekerja. Penyakit yang mendasari, yang belum sepenuhnya terkontrol, kembali aktif. Kondisi terlihat memburuk, tapi bukan karena steroid merusak sesuatu. Melainkan karena penyakit yang sudah ada sebelumnya kembali terlihat.
Perbaikan saat menggunakan steroid dan memburuk setelah penghentian tidak selalu saling bertentangan. Keduanya bisa terjadi secara bersamaan karena penyakit yang mendasari masih ada meskipun flare sebelumnya berhasil dikendalikan. Ini adalah kekambuhan, bukan bukti kerusakan.
Perbedaan penting yang perlu dipahami:
- Kekambuhan penyakit: kondisi yang sudah ada sebelumnya kembali aktif setelah terapi dihentikan. Ini adalah karakteristik DA sebagai penyakit kronis
- Ketergantungan steroid: kondisi di mana kulit memerlukan steroid untuk berfungsi normal bahkan di luar konteks penyakit yang mendasari. Ini berbeda dari kekambuhan biasa
- TSW: respons kulit yang spesifik setelah penghentian kortikosteroid topikal jangka panjang dengan pola tertentu. Ini juga berbeda dari kekambuhan biasa
Ketiganya bisa menghasilkan kemerahan setelah steroid dihentikan, tapi prosesnya berbeda dan implikasinya berbeda.
Baca Juga: Gejala TSW: Bagaimana Membedakannya dari Eksim Biasa?