Atrofi vulvovaginal atau Genitourinary Syndrome of Menopause (GSM) adalah penipisan, kekeringan, dan inflamasi dinding vagina akibat penurunan estrogen saat menopause atau perimenopause. Kondisi ini mempengaruhi hingga 50% wanita pascamenopause.
Gejalanya meliputi kekeringan vagina yang persisten, rasa terbakar atau gatal, nyeri saat berhubungan, perdarahan ringan setelah intercourse, penurunan lubrikasi, penipisan jaringan vulva, dan infeksi saluran kemih yang berulang. Semua ini terjadi karena penurunan estrogen mengurangi produksi kolagen, elastisitas jaringan, dan aliran darah ke area genital.
O-Shot sebagai Solusi Natural
Penelitian menunjukkan bahwa PRP aman dan efektif untuk atrofi vulvovaginal pada wanita pascamenopause. Keuntungannya dibanding terapi hormon adalah tidak ada risiko sistemik, menggunakan faktor pertumbuhan alami tubuh sendiri, efek lokal tanpa mempengaruhi organ lain, dan cocok untuk wanita yang tidak bisa atau tidak mau menggunakan terapi hormon.
Systematic review menunjukkan peningkatan signifikan pada Vaginal Health Index (VHI) pada 327 wanita yang menjalani treatment PRP. O-Shot bekerja dengan merangsang produksi kolagen baru, meningkatkan ketebalan dinding vagina, memperbaiki vaskularisasi, dan meningkatkan lubrikasi alami.
Hasil jangka panjangnya meliputi jaringan yang lebih sehat dan elastis, pengurangan gejala kekeringan, dan peningkatan kualitas hidup seksual. Maintenance treatment dapat dilakukan setiap 12-18 bulan untuk mempertahankan hasil optimal.