1. Hindari hubungan seksual saat gejala muncul
Hindari hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral ketika pasangan sedang mengalami luka, lepuhan, atau gejala awal kekambuhan.
Sebelum luka muncul, sebagian orang merasakan sensasi kesemutan, gatal, nyeri, atau rasa terbakar di area yang biasa mengalami herpes. Fase ini disebut gejala prodromal dan tetap perlu dianggap sebagai periode berisiko.
NHS menyarankan untuk hindari aktivitas seksual sejak muncul sensasi yang mengarah pada kekambuhan sampai luka sembuh.
2. Gunakan kondom secara konsisten
Kondom membantu mengurangi kontak langsung dengan sebagian area genital sehingga risiko transmisi HSV ikut turun.
Namun, kondom tidak memberi perlindungan penuh terhadap herpes genital. Virus masih bisa berada pada kulit di sekitar kemaluan, pangkal penis, skrotum, bokong, atau area lain yang tidak tertutup kondom.
WHO menegaskan bahwa penggunaan kondom yang benar dan konsisten mengurangi risiko penularan, tetapi HSV tetap mungkin menyebar melalui area kulit yang tidak tertutup.
Karena itu, penggunaan kondom sebaiknya berjalan bersama langkah pencegahan lainnya.
3. Kenali pola kekambuhan bersama pasangan
Pasangan yang sudah lama hidup dengan herpes genital sering mulai mengenali tanda awal kekambuhan. Catatan sederhana tentang waktu munculnya gejala dan pemicu yang dirasakan bisa membantu mengenali pola tersebut.
Keterbukaan juga penting. Pasangan sebaiknya merasa nyaman memberi tahu ketika muncul sensasi awal atau luka sehingga hubungan seksual bisa ditunda sampai kondisi membaik.
Cara ini tidak menghilangkan kemungkinan penularan tanpa gejala, tetapi membantu menghindari kontak seksual ketika risiko sedang lebih tinggi.
4. Diskusikan terapi antivirus supresif dengan dokter
Pada sebagian pasien dengan HSV-2 genital simptomatik, dokter mungkin mempertimbangkan terapi antivirus supresif atau terapi harian untuk mengurangi kekambuhan. Terapi tersebut juga bisa menjadi salah satu bagian dari strategi untuk menekan risiko transmisi ke pasangan.
CDC menyebut terapi antivirus supresif tertentu terbukti menurunkan risiko penularan HSV-2 pada pasangan heteroseksual dengan status HSV yang berbeda, terutama bila dikombinasikan dengan kondom dan menghindari hubungan seksual saat kekambuhan.
Terapi supresif tidak selalu perlu untuk setiap orang. Jenis HSV, frekuensi kekambuhan, riwayat kesehatan, serta kondisi pasangan perlu dokter pertimbangkan sebelum memilih terapi.