DVX Jakarta dan Surabaya

Senin - Jumat: 12.00 - 20.00 | Sabtu: 09.00 - 16.00 | Minggu Appointment Only

Dupilumab untuk Dermatitis Atopik: Bagaimana Cara Kerjanya?

Dupilumab untuk Dermatitis Atopik: Bagaimana Cara Kerjanya?

Rabu, 03 Jun 2026

Mengapa Terapi Standar Tidak Selalu Cukup

Pada sebagian besar pasien, dermatitis atopik dapat dikendalikan dengan pelembap yang tepat dan kortikosteroid topikal. Namun pada pasien dengan penyakit sedang hingga berat — ditandai dengan lesi luas, gatal yang mengganggu tidur, atau kekambuhan berulang meski sudah menggunakan terapi topikal secara konsisten — respons terhadap pengobatan standar sering kali tidak memadai.

Pada kondisi seperti ini, dokter spesialis perlu mengevaluasi apakah pasien memerlukan terapi lanjutan. Dupilumab (Dupixent®) adalah salah satu pilihan terapi lanjutan yang telah dievaluasi secara klinis untuk kelompok pasien ini.

Apa yang Terjadi di Dalam Kulit pada Dermatitis Atopik

Untuk memahami cara kerja dupilumab (Dupixent®), perlu dipahami terlebih dahulu mekanisme dasar inflamasi pada dermatitis atopik.

Pada penyakit ini, sistem imun menghasilkan respons inflamasi yang tidak proporsional terhadap pemicu lingkungan. Dua protein sinyal — interleukin-4 (IL-4) dan interleukin-13 (IL-13) — memainkan peran sentral dalam mendorong peradangan tipe 2 yang menjadi ciri khas dermatitis atopik. Keduanya berkontribusi pada disfungsi sawar kulit, produksi sitokin proinflamasi, dan rasa gatal yang persisten.

Baca juga: Apa Itu Dermatitis Atopik

Bagaimana Dupilumab Bekerja

Dupilumab (Dupixent®) adalah antibodi monoklonal yang secara spesifik menarget reseptor IL-4Rα — subunit yang digunakan bersama oleh jalur sinyal IL-4 dan IL-13. Dengan memblokir subunit ini, dupilumab menghambat sinyal dari kedua interleukin secara bersamaan.

Efek klinisnya adalah berkurangnya peradangan, membaiknya fungsi sawar kulit, dan menurunnya rasa gatal. Yang membedakannya dari imunosupresan sistemik seperti ciclosporin adalah bahwa dupilumab bekerja secara selektif pada jalur inflamasi yang relevan dengan patofisiologi dermatitis atopik.

Baca Juga: Eksim Tidak Membaik? Kapan Terapi Perlu Ditingkatkan?

Cara Pemberian dan Frekuensi

Dupilumab (Dupixent®) diberikan melalui injeksi subkutan. Dosis awal umumnya lebih tinggi, diikuti dosis pemeliharaan yang diberikan setiap dua minggu.

Injeksi dapat diberikan di klinik atau — setelah pasien mendapatkan pelatihan yang tepat — dilakukan secara mandiri di rumah. Keputusan mengenai apakah pasien sesuai untuk pemberian mandiri ditentukan oleh dokter yang menangani.

Baca juga: Kandidat Dupilumab Dermatitis Atopik

Apa yang Dapat Diharapkan Secara Klinis

Perbaikan gejala tidak terjadi dalam semalam. Sebagian pasien mulai merasakan pengurangan gatal dalam beberapa minggu pertama setelah memulai Dupixent® (dupilumab). Pada banyak pasien, perbaikan rasa gatal terjadi lebih awal dibandingkan perbaikan kondisi kulit secara keseluruhan.

Perbaikan yang lebih menyeluruh — termasuk berkurangnya luas lesi, kemerahan, gangguan tidur, dan dampak penyakit terhadap kualitas hidup — biasanya memerlukan waktu lebih lama. Karena itu, evaluasi respons pengobatan umumnya dilakukan sekitar minggu ke-16 untuk menilai manfaat terapi secara lebih komprehensif.

Yang perlu dipahami pasien: dupilumab (Dupixent®) bukan obat yang menyembuhkan dermatitis atopik. Obat ini membantu mengendalikan aktivitas penyakit selama pengobatan berlangsung. Keputusan mengenai durasi terapi serta apakah pengobatan dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan merupakan keputusan klinis yang dibuat bersama dokter spesialis berdasarkan respons individual.

Perbandingan dengan Pendekatan Terapi Lain

Sebelum dupilumab (Dupixent®) tersedia, pasien dengan dermatitis atopik berat yang tidak merespons terapi topikal memiliki pilihan terbatas berupa fototerapi atau imunosupresan sistemik seperti ciclosporin dan methotrexate yang memerlukan pemantauan laboratorium rutin.

Dupilumab (Dupixent®) bekerja melalui mekanisme yang berbeda dan tidak memerlukan pemantauan laboratorium rutin yang sama seperti ciclosporin atau methotrexate. Namun setiap terapi memiliki manfaat, keterbatasan, dan profil risiko yang berbeda sehingga pemilihan terapi harus dilakukan secara individual bersama dokter spesialis.

Artikel ini ditulis dan ditinjau secara medis oleh Dr. Christopher Toshihiro Wirya, Sp.DVE, dokter spesialis dermatologi dan venereologi yang menangani pasien dermatitis atopik dengan terapi biologis.

RINGKASAN CEPAT

ASPEKKETERANGAN
Apa itu dupilumab?Antibodi monoklonal yang memblokir jalur IL-4 dan IL-13
Cara kerjaMenghambat sinyal inflamasi tipe 2 secara selektif
Cara pemberianInjeksi subkutan setiap dua minggu
Untuk siapaDermatitis atopik sedang hingga berat yang tidak terkontrol dengan terapi topikal
Kapan efek terlihatPerbaikan gatal: beberapa minggu pertama evaluasi menyeluruh: sekitar minggu ke-16
Tingkat keparahanSedang hingga berat

TABEL PERBANDINGAN DUPILUMAB (DUPIXENT®) VS TERAPI SISTEMIK KONVENSIONAL

Dupilumab (Dupixent)CiclosporinMethotrexate
MekanismeBlokade IL-4/IL-13 selektifImunosupresi luasAntiproliferatif, imunomodulasi
Cara pemberianInjeksi subkutanOralOral / injeksi
Monitoring lab rutinTidak diperlukan secara rutinDiperlukan (fungsi ginjal, TD)Diperlukan (fungsi hati, darah)
Durasi penggunaanJangka panjang sesuai evaluasi klinisUmumnya dibatasiJangka panjang dimungkinkan
Profil risiko utamaKonjungtivitis, reaksi injeksiNefrotoksisitas, hipertensiHepatotoksisitas, supresi sumsum

FAQ

Data jangka panjang menunjukkan profil keamanan yang konsisten selama periode evaluasi yang tersedia. Tidak ada batasan durasi baku seperti pada ciclosporin. Keputusan durasi penggunaan ditentukan oleh dokter spesialis berdasarkan respons terapi dan kondisi pasien secara individual.

Ya. Dalam praktik klinis, dupilumab sering digunakan bersamaan dengan kortikosteroid topikal, terutama pada fase awal pengobatan atau saat kekambuhan lokal. Kombinasi terapi harus dirancang dan dipantau oleh dokter spesialis.

Sebagian pasien mulai merasakan pengurangan gatal dalam beberapa minggu pertama. Perbaikan rasa gatal umumnya terjadi lebih awal dibandingkan perbaikan kondisi kulit secara keseluruhan. Evaluasi respons terapi dilakukan sekitar minggu ke-16.

Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah reaksi di lokasi injeksi dan konjungtivitis. Evaluasi manfaat dan risiko terapi harus dilakukan bersama dokter spesialis sebelum pengobatan dimulai.

Karena dermatitis atopik merupakan kondisi kronis, gejala dapat kembali setelah penghentian terapi pada sebagian pasien. Keputusan menghentikan pengobatan harus direncanakan bersama dokter spesialis dan tidak dilakukan secara tiba-tiba.

Dupixent® adalah nama dagang dari obat yang mengandung dupilumab. Dupilumab adalah nama zat aktifnya. Keduanya merujuk pada obat yang sama.

Disclaimer

Informasi ini disusun oleh Dr. Christopher Toshihiro Wirya, Sp.DVE, untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Keputusan pengobatan hanya dapat ditentukan setelah evaluasi klinis menyeluruh oleh dokter spesialis. Jangan mengubah rencana pengobatan tanpa berkonsultasi.

Hubungi Klinik DVX Medical Sekarang untuk Lakukan Pemeriksaan Oleh Dokter Spesialis Profesional!

Kunjungi DVX Medical Jakarta dan dapatkan Pemeriksaan yang tepat dan aman bersama dokter spesialis profesional. Jangan tunda pemeriksaan Anda, segera konsultasi sekarang agar penyakit terdeteksi lebih dini dan cepat ditangani!

Related Article

Bagaimana Cara Kerja Dupixent (Dupilumab) untuk Dermatitis Atopik?

Selama bertahun-tahun, pengobatan dermatitis atopik berfokus...

Dupilumab: Seberapa Efektif untuk Dermatitis Atopik?

Sebelum dupilumab (Dupixent®) tersedia, pasien dengan dermat...

Macam-Macam Penyakit Dermatitis dan Cara Membedakannya

Ruam kulit yang terasa gatal, kering, atau bersisik sering k...

Rinvoq (upadacitinib) untuk Dermatitis Atopik: Apa yang Perlu Diketahui?

Rinvoq bukan dipertimbangkan karena pasien ingin mencoba oba...

Freorla (abrocitinib) untuk Dermatitis Atopik: Apa yang Perlu Diketahui?

Freorla adalah nama merek abrocitinib yang tersedia di Indon...

Send Message