Tes darah digunakan untuk mencari infeksi tertentu atau respons tubuh terhadap suatu infeksi. Beberapa pemeriksaan yang mungkin dipertimbangkan dalam skrining kesehatan seksual antara lain:
1. Sifilis
Pemeriksaan darah bisa membantu mendeteksi antibodi yang berkaitan dengan infeksi Treponema pallidum, bakteri penyebab sifilis.
Menurut WHO, diagnosis sifilis mempertimbangkan riwayat klinis dan seksual, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium, termasuk tes darah. WHO juga menjelaskan bahwa banyak orang dengan sifilis tidak menyadari gejala yang dialaminya.
Hasil pemeriksaan sifilis tetap perlu dinilai oleh dokter karena terdapat beberapa jenis tes, dan interpretasinya juga dipengaruhi riwayat pengobatan maupun pemeriksaan sebelumnya.
2. HIV
HIV bisa diperiksa menggunakan sampel darah atau metode lain sesuai jenis tes yang digunakan.
CDC merekomendasikan setiap orang usia 13–64 tahun menjalani pemeriksaan HIV setidaknya sekali sebagai bagian dari layanan kesehatan rutin, sedangkan orang dengan faktor risiko tertentu perlu menjalani pemeriksaan lebih sering.
Seseorang sebaiknya tidak menunggu munculnya keluhan untuk mempertimbangkan tes HIV apabila memiliki riwayat paparan yang relevan.
3. Hepatitis B
Hepatitis B bisa menular melalui darah maupun hubungan seksual. Infeksi ini juga sering tidak menyebabkan keluhan pada tahap tertentu.
CDC merekomendasikan skrining hepatitis B setidaknya sekali seumur hidup untuk semua orang dewasa berusia 18 tahun ke atas serta pemeriksaan berkala bagi orang dengan risiko paparan berkelanjutan. Pemeriksaannya menggunakan tes darah untuk melihat penanda infeksi maupun kekebalan terhadap hepatitis B.