Kemunculan kutil di selangkangan pria sering langsung dikait...
Benjolan di Area Intim, Apakah Selalu Penyakit Menular Seksual?
Tidak sedikit orang merasa cemas saat menyadari adanya benjolan di area intim, terutama karena kekhawatiran akan penyakit menular seksual. Padahal, tidak semua benjolan di sekitar penis, skrotum, selangkangan, vulva, maupun anus berkaitan dengan aktivitas seksual atau infeksi menular.
Beberapa kondisi seperti iritasi setelah mencukur, rambut tumbuh ke dalam, peradangan folikel rambut, kista, hingga infeksi kulit dapat menimbulkan keluhan serupa. Meski demikian, penyakit menular seksual atau lebih dikenal dengan infeksi menular seksual (IMS) seperti kutil kelamin dan herpes genital juga bisa menjadi penyebabnya. Karena tampilan berbagai kelainan kulit bisa mirip, pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat.
Penyebab Benjolan di Area Intim yang Bukan IMS
1. Folikulitis
Folikulitis merupakan peradangan pada folikel rambut. Keluhan ini sering terlihat seperti jerawat kecil berwarna kemerahan dan terkadang memiliki titik putih di tengahnya. Benjolan bisa terasa gatal, perih, atau nyeri saat disentuh.
Gesekan dari pakaian ketat, keringat, pencukuran, dan infeksi bakteri dapat memicu folikulitis. Menurut American Academy of Dermatology, folikulitis umumnya tampak seperti kumpulan jerawat yang muncul secara tiba-tiba, dan setiap benjolan bisa memiliki lingkaran kemerahan di sekitarnya.
2. Rambut tumbuh ke dalam
Rambut tumbuh ke dalam atau ingrown hair terjadi ketika rambut yang telah dicukur tumbuh kembali menuju kulit. Kondisi ini sering muncul di area yang rutin dicukur, termasuk selangkangan dan sekitar kemaluan.
Benjolannya bisa terasa gatal atau nyeri dan terkadang terlihat seperti jerawat. NHS menjelaskan bahwa rambut tumbuh ke dalam menyebabkan benjolan gatal ketika rambut tumbuh kembali ke dalam kulit.
3. Kista kulit
Kista merupakan kantong berisi cairan atau material tertentu yang terbentuk di bawah kulit. Benjolan biasanya berbentuk bulat, tumbuh perlahan, dan tidak selalu terasa sakit. Namun, kista bisa menjadi merah, nyeri, atau membesar jika mengalami peradangan maupun infeksi.
Jangan memencet atau menusuk kista sendiri karena tindakan tersebut meningkatkan risiko infeksi dan luka.
4. Kista Bartholin
Pada wanita, benjolan di salah satu sisi dekat lubang vagina mungkin berkaitan dengan kista Bartholin. Kista ini terbentuk ketika saluran kelenjar Bartholin tersumbat.
Menurut NHS, gejala utama kista Bartholin ialah benjolan lunak pada salah satu sisi dekat lubang vagina. Benjolan kecil mungkin tidak terasa sakit, sedangkan kista yang membesar atau terinfeksi bisa menyebabkan nyeri saat duduk, berjalan, atau berhubungan seksual.
5. Bisul atau abses kulit
Bisul dan abses biasanya tampak sebagai benjolan merah, terasa hangat, nyeri, dan berisi nanah. Infeksi bakteri pada kulit sering menjadi pemicunya. Benjolan seperti ini bisa membesar dalam beberapa hari dan menyebabkan nyeri berdenyut.
Pemeriksaan medis diperlukan jika benjolan membesar, nyeri berat, disertai demam, atau mengeluarkan banyak nanah.
6. Hidradenitis suppurativa
Hidradenitis suppurativa merupakan penyakit kulit kronis yang menimbulkan benjolan berulang pada area lipatan, seperti ketiak, selangkangan, bokong, atau bawah payudara.
Benjolan bisa menyerupai bisul, pecah, mengeluarkan cairan, kemudian meninggalkan jaringan parut. Kondisi ini bukan IMS, tetapi memerlukan evaluasi dokter karena sering kambuh dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Folikulitis di Area Kelamin: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan
Benjolan di Area Intim yang Bisa Berkaitan dengan IMS
1. Kutil kelamin
Kutil kelamin berkaitan dengan infeksi human papillomavirus atau HPV. Bentuknya bervariasi, mulai dari benjolan kecil berwarna menyerupai kulit, permukaan kasar, hingga beberapa benjolan yang berkumpul menyerupai bunga kol.
Kutil biasanya tidak terasa sakit, tetapi sebagian pasien mengalami gatal, rasa tidak nyaman, atau perdarahan akibat gesekan. Mayo Clinic menjelaskan bahwa kutil kelamin dapat terlihat sebagai pembengkakan kecil, datar, bertangkai, atau berkelompok menyerupai bunga kol.
2. Herpes genital
Herpes genital biasanya menimbulkan satu atau beberapa lepuhan berisi cairan. Lepuhan kemudian dapat pecah dan berubah menjadi luka yang terasa perih atau nyeri.
Menurut CDC, luka herpes umumnya bermula sebagai lepuhan pada atau di sekitar genital, anus, maupun mulut. Lepuhan dapat pecah dan meninggalkan luka yang membutuhkan waktu untuk sembuh.
Meski demikian, gejala herpes tidak selalu terlihat khas. Sebagian orang hanya mengalami keluhan ringan yang menyerupai jerawat atau iritasi kulit.
3. Moluskum kontagiosum
Moluskum kontagiosum merupakan infeksi virus pada kulit yang menimbulkan benjolan kecil, licin, dan biasanya memiliki lekukan di bagian tengah. Pada orang dewasa, kelainan yang muncul di area genital bisa menular melalui kontak kulit saat aktivitas seksual.
Dokter perlu membedakannya dari kutil kelamin serta gangguan kulit lainnya.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Sambil Menunggu Pemeriksaan?
Jaga area genital tetap bersih dan kering. Gunakan pakaian dalam yang longgar serta hentikan pencukuran sementara jika benjolan muncul setelah mencukur.
Jangan memencet, menusuk, menggaruk, atau mencoba membakar benjolan. Hindari pula penggunaan obat kutil biasa, cairan asam, antibiotik, atau krim steroid tanpa arahan dokter. Kulit genital lebih sensitif sehingga pemakaian produk yang tidak tepat bisa menimbulkan iritasi dan menyamarkan gejala.
Apabila terdapat kemungkinan IMS, sebaiknya tunda aktivitas seksual sampai dokter selesai melakukan evaluasi. Penggunaan kondom membantu menurunkan risiko penularan beberapa IMS, tetapi tidak selalu menutup seluruh area kulit yang terinfeksi.
Referensi
- CDC. About Genital Herpes. 2024
- American Academy of Dermatology. Folliculitis
- NHS. Ingrown Hairs. 2023
- NHS. Bartholin’s Cyst. 2025
- Mayo Clinic. Genital Warts: Symptoms and Causes. 2023




