Menemukan benjolan kecil di area selangkangan sering membuat...
Apakah Kutil di Selangkangan Pria Selalu Disebabkan HPV?
Kemunculan kutil di selangkangan pria sering langsung dikaitkan dengan infeksi human papillomavirus atau HPV. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah karena HPV memang menjadi penyebab utama kutil kelamin. Namun, tidak setiap benjolan atau pertumbuhan kulit di selangkangan merupakan kutil kelamin akibat HPV.
Beberapa kondisi kulit lain, seperti skin tag, molluscum contagiosum, folikulitis, kista, atau iritasi setelah mencukur, bisa menimbulkan benjolan yang sekilas tampak serupa. Karena bentuknya sulit dibedakan hanya melalui pengamatan sendiri, pemeriksaan dokter diperlukan sebelum menentukan penyebab dan penanganannya.
Ciri Kutil Kelamin Akibat HPV
Kutil kelamin akibat HPV biasanya muncul pada area yang mengalami kontak kulit saat aktivitas seksual, seperti pangkal penis, batang penis, skrotum, selangkangan, perineum, atau sekitar anus.
Karakteristiknya dapat berupa:
- Benjolan kecil berwarna menyerupai kulit, merah muda, atau agak kecokelatan.
- Permukaan halus, tidak rata, atau menyerupai bunga kol.
- Muncul satu per satu atau berkelompok.
- Ukurannya bertambah atau jumlahnya meningkat seiring waktu.
- Umumnya tidak nyeri, tetapi kadang terasa gatal, tidak nyaman, atau mudah berdarah akibat gesekan.
NHS menjelaskan bahwa kutil kelamin biasanya berupa pertumbuhan atau benjolan di sekitar penis maupun anus. Kondisi ini sering tidak menimbulkan keluhan, meskipun pada sebagian orang bisa terasa gatal, nyeri, atau berdarah.
Ciri tersebut tetap tidak cukup untuk memastikan diagnosis secara mandiri. Bentuk kutil kelamin bisa menyerupai sejumlah masalah kulit lain.
Kondisi Lain yang Menyerupai Kutil di Selangkangan Pria
1. Skin Tag
Skin tag atau acrochordon merupakan pertumbuhan kulit jinak yang biasanya berwarna sama dengan kulit. Bentuknya cenderung lunak, menggantung, dan memiliki tangkai kecil.
Skin tag sering muncul pada area yang mengalami gesekan berulang, termasuk leher, ketiak, serta selangkangan. Berbeda dari kutil kelamin, skin tag bukan infeksi menular seksual dan tidak menular kepada pasangan. Cleveland Clinic menyebut skin tag sebagai pertumbuhan kulit nonkanker yang kerap terbentuk di area tempat kulit saling bergesekan.
2. Molluscum Contagiosum
Molluscum contagiosum merupakan infeksi kulit akibat poxvirus. Kondisi ini menimbulkan benjolan kecil, padat, licin, dan sering memiliki cekungan di bagian tengah.
Pada orang dewasa, molluscum di sekitar genital bisa menular melalui kontak seksual. Namun, virus penyebabnya berbeda dari HPV. Menurut American Academy of Dermatology, benjolan molluscum yang menyebar melalui kontak seksual sering muncul pada atau di sekitar area genital.
3. Folikulitis
Folikulitis terjadi saat folikel rambut mengalami peradangan. Kondisi ini sering muncul setelah mencukur rambut kemaluan, berkeringat, memakai pakaian ketat, atau mengalami gesekan.
Benjolannya biasanya tampak seperti jerawat kecil. Sebagian terasa nyeri, kemerahan, gatal, atau berisi nanah. Folikulitis lebih sering tumbuh tepat di sekitar rambut, berbeda dari kutil kelamin yang tidak selalu berhubungan dengan folikel rambut.
4. Rambut Tumbuh ke Dalam
Rambut tumbuh ke dalam atau ingrown hair juga sering muncul setelah mencukur atau mencabut rambut. Benjolannya bisa kemerahan, terasa nyeri saat disentuh, dan terkadang memperlihatkan rambut yang terperangkap di bawah kulit.
Memencet benjolan berisiko memperparah iritasi atau memicu infeksi bakteri.
5. Kista Kulit
Kista merupakan kantong berisi cairan, keratin, atau material lain di bawah permukaan kulit. Benjolan biasanya terasa lebih bulat dan berada lebih dalam dibandingkan kutil. Beberapa kista tidak menimbulkan keluhan, tetapi kista yang meradang bisa terasa nyeri, hangat, serta membesar.
Baca juga: Benjolan di Penis: Kutil Kelamin atau Bukan? Kenali Perbedaannya
Mengapa Pemeriksaan Dokter Tetap Diperlukan?
Lokasi benjolan saja tidak cukup untuk menentukan apakah penyebabnya HPV. Dokter Sp.KK atau Sp.DVE biasanya memulai pemeriksaan dengan menanyakan riwayat munculnya benjolan, perubahan ukuran, keluhan penyerta, kebiasaan mencukur, serta kemungkinan paparan seksual.
Selanjutnya, dokter akan memeriksa karakteristik lesi secara langsung. Pada sebagian besar kasus kutil kelamin, diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan klinis. Pedoman CDC tidak menganjurkan pemeriksaan HPV sebagai tes umum untuk mendiagnosis kutil kelamin pada pria.
Pemeriksaan lanjutan mungkin dipertimbangkan apabila benjolan:
- Memiliki bentuk atau warna yang tidak khas.
- Terasa keras atau melekat pada jaringan di bawahnya.
- Mudah berdarah atau mengalami luka.
- Membesar dengan cepat.
- Tidak membaik setelah penanganan.
- Menimbulkan keraguan terhadap diagnosis.
Pemeriksaan Kutil di Selangkangan Pria di DVX Medical Jakarta
Benjolan di area intim sering menimbulkan rasa khawatir dan tidak nyaman untuk dibicarakan. Namun, pemeriksaan lebih awal membantu dokter membedakan kutil kelamin akibat HPV dari skin tag, molluscum contagiosum, folikulitis, kista, atau kondisi kulit lainnya.
DVX Medical Jakarta menyediakan konsultasi privat bersama dokter spesialis kulit dan kelamin Sp.KK atau Sp.DVE. Dokter akan mengevaluasi kondisi kulit secara langsung, menjelaskan kemungkinan penyebab, dan menyusun pilihan penanganan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Jika dokter memastikan adanya kutil kelamin, pilihan terapi akan disesuaikan dengan lokasi, ukuran, jumlah lesi, kondisi kulit, serta riwayat kesehatan pasien. Penanganan bisa berupa obat resep atau prosedur medis sesuai indikasi. Dokter juga bisa memberikan edukasi mengenai risiko penularan, perawatan setelah tindakan, vaksinasi HPV, dan kebutuhan pemeriksaan pasangan.
Konsultasikan kutil di selangkangan pria dengan dokter Sp.KK atau Sp.DVE di DVX Medical Jakarta untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang sesuai.
Baca juga: Konsultasi Kutil Kelamin Pria di Jakarta: Pemeriksaan Privat dengan Dokter Spesialis




