DVX Surabaya

Senin. selasa. jumat 12.00-21.00 | Rabu. kamis. sabtu 11.00-18.00

DVX Jakarta

Senin - jumat 11.00-19.00 | Sabtu 10.00-15.00

PrEP Tenof EM Jangka Panjang, Amankah untuk Ginjal dan Tulang?

PrEP Tenof EM Jangka Panjang, Amankah untuk Ginjal dan Tulang?

Kamis, 20 Agu 2026

Sudah lama menggunakan Tenof EM tetapi mulai khawatir dengan kesehatan ginjal atau tulang? Kekhawatiran seperti ini cukup sering muncul, terutama pada orang yang menggunakan PrEP secara rutin dalam waktu lama. Pada sebagian pengguna, pemakaian PrEP dalam waktu lama memang perlu disertai perhatian pada kondisi ginjal dan tulang.

Namun, hal ini bukan berarti Tenof EM harus langsung dihentikan. PrEP berbasis tenofovir disoproxil fumarate atau TDF dan emtricitabine telah digunakan secara luas untuk membantu mencegah HIV. Jika digunakan sesuai anjuran, PrEP dapat menurunkan risiko tertular HIV melalui hubungan seksual hingga sekitar 99%. Karena itu, penggunaan jangka panjang sebaiknya tetap disertai pemeriksaan rutin agar perlindungan terhadap HIV tetap optimal sekaligus menjaga kesehatan tubuh.

Kandungan Tenof EM dan Cara Kerjanya sebagai PrEP

Tenof EM mengandung dua obat, yaitu tenofovir disoproxil fumarate (TDF) dan emtricitabine (FTC), yang merupakan kombinasi PrEP oral untuk membantu mencegah HIV sebelum paparan. Keduanya bekerja dengan menghambat kemampuan HIV berkembang di dalam tubuh sehingga penggunaan sesuai aturan dapat sangat menurunkan risiko infeksi HIV. Meski efektif dan telah digunakan secara luas, keamanan penggunaan jangka panjang tetap bergantung pada kondisi setiap orang, termasuk fungsi ginjal, kesehatan tulang, obat lain yang dikonsumsi, dan riwayat kesehatan.

Efek Samping PrEP Jangka Panjang terhadap Ginjal

Efek samping PrEP jangka panjang terhadap ginjal terutama berkaitan dengan kandungan TDF (tenofovir) yang dikeluarkan melalui ginjal. Pada sebagian pengguna, tenofovir dapat menyebabkan sedikit perubahan fungsi ginjal yang umumnya ringan dan dapat membaik setelah obat dihentikan, sedangkan gangguan ginjal berat tergolong jarang. Risikonya dapat dipengaruhi oleh usia, kondisi ginjal sebelum menggunakan PrEP, hipertensi, diabetes, dan obat-obatan tertentu. Karena itu, fungsi ginjal perlu dipantau, terutama pada penggunaan PrEP oral jangka panjang. Sebelum memulai PrEP berbasis TDF/FTC, dokter biasanya melakukan pemeriksaan untuk menilai fungsi ginjal, dengan salah satu acuan keamanan yaitu eCrCl di atas 60 mL/menit, serta melakukan pemantauan berkala selama penggunaan.

Bagaimana Tenofovir dalam PrEP Memengaruhi Kepadatan Tulang?

Selain ginjal, efek PrEP pada tulang juga perlu diperhatikan karena kandungan TDF dapat menyebabkan sedikit penurunan kepadatan mineral tulang pada sebagian pengguna. Namun, perubahan ini umumnya kecil dan tidak berarti setiap pengguna akan mengalami osteoporosis atau tulang mudah patah.

Dampak PrEP terhadap tulang dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, dokter perlu mempertimbangkan faktor risiko seperti osteoporosis atau riwayat patah tulang. Pengguna dengan risiko masalah tulang mungkin memerlukan evaluasi lebih lanjut sebelum atau selama menggunakan PrEP.

Apakah TAF Bisa Menjadi Pilihan PrEP selain Tenof EM?

Selain TDF, kini tersedia jenis tenofovir yang lebih baru yaitu tenofovir alafenamide atau TAF. Salah satu PrEP berbasis TAF adalah kombinasi emtricitabine dan TAF yang dikenal melalui merek Descovy.

TAF dirancang agar obat lebih banyak masuk ke sel yang dituju sehingga kadar tenofovir di dalam darah bisa lebih rendah dibandingkan TDF. Hal ini membuat paparan tenofovir ke ginjal dan tulang menjadi lebih rendah.

Dalam studi DISCOVER, PrEP berbasis F/TAF terbukti memberikan perlindungan terhadap HIV yang sebanding dengan F/TDF pada kelompok yang diteliti. Studi tersebut juga menunjukkan hasil pemeriksaan ginjal dan tulang yang lebih baik pada kelompok F/TAF.Karena itu, pada sebagian pengguna yang mulai memiliki perhatian terhadap fungsi ginjal atau kesehatan tulang.

Meski demikian, TAF tidak otomatis lebih cocok untuk semua orang. Pilihan PrEP tetap perlu disesuaikan dengan fungsi ginjal, kondisi kesehatan, pola risiko HIV, dan kebutuhan pengguna. PrEP berbasis F/TAF belum menjadi pilihan untuk orang yang berisiko HIV melalui hubungan seks vaginal sebagai pihak yang menerima penetrasi, karena datanya masih terbatas. Karena itu, pergantian dari Tenof EM ke PrEP berbasis TAF sebaiknya tidak dilakukan sendiri tanpa konsultasi.

Pemeriksaan yang Dibutuhkan Selama Menggunakan PrEP Tenof EM

Menggunakan PrEP dalam jangka panjang bukan hanya soal minum obat secara rutin. Melalui pemeriksaan rutin, dokter dapat melihat apakah PrEP yang digunakan masih cocok dan aman untuk dilanjutkan.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:

  • tes HIV secara berkala
  • pemeriksaan fungsi ginjal
  • pemeriksaan hepatitis B
  • skrining infeksi menular seksual
  • evaluasi obat lain yang sedang digunakan
  • pemeriksaan kesehatan lain sesuai kondisi masing-masing pasien

Untuk sebagian pengguna, fungsi ginjal perlu diperiksa setidaknya setiap enam bulan. Pemantauan lebih rutin dapat diperlukan pada orang berusia 50 tahun ke atas, memiliki fungsi ginjal yang mulai menurun, atau memiliki kondisi seperti hipertensi dan diabetes.

Pemilihan PrEP jangka panjang juga sebaiknya disesuaikan dengan:

  • kondisi fungsi ginjal
  • kesehatan tulang
  • riwayat penggunaan PrEP
  • obat lain yang sedang dikonsumsi
  • jenis risiko paparan HIV
  • gaya hidup dan kemampuan mengikuti jadwal minum obat

Hal ini penting karena tidak semua pengguna membutuhkan pilihan PrEP yang sama.

Apakah PrEP Tenof EM Aman Digunakan dalam Jangka Panjang?

Secara umum, Tenof EM berbasis TDF/FTC tetap menjadi pilihan PrEP yang efektif dan dapat digunakan dalam jangka panjang pada orang yang memenuhi syarat medis. Adanya kemungkinan efek samping tenofovir pada ginjal atau tulang bukan berarti Tenof EM tidak aman. Pada banyak pengguna dengan fungsi ginjal yang baik dan tanpa masalah tulang tertentu, obat ini tetap dapat digunakan dengan pemantauan berkala.

Namun, bila hasil pemeriksaan mulai menunjukkan perubahan fungsi ginjal, terdapat masalah kesehatan tulang, atau muncul kondisi lain yang perlu diperhatikan, Dokter dapat menilai apakah PrEP yang digunakan masih tepat atau perlu diganti. Pada sebagian orang, PrEP berbasis TAF dapat menjadi pilihan lain yang layak dipertimbangkan. Namun, keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan jenis risiko HIV masing-masing.

Jadi, penggunaan PrEP jangka panjang tidak hanya bertujuan mencegah HIV. Pengguna juga perlu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan melalui monitoring berkala, pemeriksaan fungsi ginjal, evaluasi medis rutin, dan penyesuaian PrEP bila memang diperlukan.

Ingin Menggunakan PrEP Jangka Panjang? Konsultasi di DVX Medical

Jika sudah lama menggunakan Tenof EM dan mulai khawatir dengan kondisi ginjal atau kesehatan tulang, Anda tidak perlu langsung menghentikan atau mengganti obat sendiri.

DVX Medical menyediakan layanan konsultasi PrEP untuk membantu mengevaluasi penggunaan PrEP berdasarkan kondisi masing-masing pasien. Pemeriksaan dapat membantu melihat apakah Tenof EM masih sesuai atau apakah pilihan PrEP lain perlu dipertimbangkan.

PrEP bukan hanya soal mencegah HIV, tetapi juga tentang menjaga kesehatan dalam jangka panjang. Dengan pemantauan yang tepat, penggunaan PrEP dapat disesuaikan agar tetap efektif sekaligus aman sesuai kondisi tubuh.

DVX Medical Jakarta
Jl. Hang Lekir 2 No. 15B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
0822-6161-4215 (WhatsApp)

DVX Medical Surabaya
Jl. Dharmahusada Indah Bar. No.181, Gubeng, Surabaya, Jawa Timur
0812-1647-4538 (WhatsApp)

1. Apakah Tenof EM bisa merusak ginjal jika digunakan lama?

Pada sebagian pengguna, kandungan TDF dapat memengaruhi fungsi ginjal. Namun, perubahan yang terjadi umumnya ringan. Pemeriksaan rutin membantu dokter mengetahui apakah fungsi ginjal tetap aman selama menggunakan PrEP.

2. Apakah Tenof EM bisa membuat tulang rapuh?

TDF dapat menyebabkan sedikit penurunan kepadatan tulang pada sebagian pengguna. Namun, hal ini tidak berarti setiap pengguna akan mengalami osteoporosis atau patah tulang.

3. Apakah Descovy lebih baik untuk ginjal dan tulang?

Pada studi DISCOVER, PrEP berbasis TAF menunjukkan hasil pemeriksaan ginjal dan tulang yang lebih baik dibandingkan TDF pada kelompok yang diteliti. Meski begitu, Descovy tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk semua orang.

4. Apakah pengguna Tenof EM harus pindah ke TAF setelah beberapa tahun?

Tidak. Lama penggunaan bukan satu-satunya alasan untuk mengganti PrEP. Dokter perlu melihat fungsi ginjal, kondisi tulang, riwayat penggunaan PrEP, jenis risiko HIV, serta kondisi kesehatan lainnya.

5. Seberapa sering fungsi ginjal perlu diperiksa?

Jadwal pemeriksaan berbeda pada setiap orang. Pada kelompok tertentu, CDC merekomendasikan pemeriksaan fungsi ginjal setidaknya setiap enam bulan. Dokter dapat menyarankan jadwal yang lebih sering jika terdapat faktor risiko tertentu.

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Clinical Guidance for PrEP.2026.
  2. Mayer KH, Molina JM, Thompson MA, et al.Emtricitabine and Tenofovir Alafenamide vs Emtricitabine and Tenofovir Disoproxil Fumarate for HIV Pre-exposure Prophylaxis (DISCOVER).The Lancet. 2020.
  3. Mulligan K, et al.Effects of Emtricitabine/Tenofovir on Bone Mineral Density in HIV-Negative Persons in a Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial.Clinical Infectious Diseases. 2015.
  4. Schaefer R, et al.Kidney Function in Tenofovir Disoproxil Fumarate-Based Oral Pre-exposure Prophylaxis Users.The Lancet HIV. 2022.
  5. U.S. Food and Drug Administration (FDA).Descovy Prescribing Information.2021.
  6. DVX Medical.Descovy vs TDF untuk PrEP: Apa Perbedaannya?2026.

Hubungi Klinik DVX Medical Jakarta Sekarang untuk Lakukan Pemeriksaan Oleh Dokter Spesialis Profesional!

Kunjungi DVX Medical Jakarta dan dapatkan Pemeriksaan yang tepat dan aman bersama dokter spesialis profesional. Jangan tunda pemeriksaan Anda, segera konsultasi sekarang agar penyakit terdeteksi lebih dini dan cepat ditangani!

Related Article

Perbedaan PrEP dan PEP: Mana yang Tepat untuk Anda?

Di tengah meningkatnya kesadaran akan pencegahan HIV, dua na...

Tremfya (Guselkumab): Kapan Dokter Memilih IL-23 Inhibitor untuk Psoriasis?

Ketika seorang pasien psoriasis pertama kali mendengar nama ...

Memahami Risiko dan Efek Samping Terapi Biologik untuk Psoriasis

Banyak pasien yang mempertimbangkan terapi biologik untuk ps...

Remibrutinib untuk Biduran Kronik: Apa yang Ditunjukkan Studi REMIX?

Remibrutinib (nama dagang Rhapsido) adalah BTK inhibitor ora...

Amankah Terapi Jangka Panjang untuk Biduran Kronik?

Kalau Anda mempertimbangkan terapi target untuk CSU tapi rag...