Manfaat vaginal toilet sering dikaitkan dengan kebersihan ar...
Mengenal Vaginal Toilet untuk Membantu Menangani Keputihan Abnormal
Keputihan merupakan bagian alami dari sistem reproduksi wanita. Cairan vagina membantu menjaga kelembapan sekaligus membawa keluar sel mati dan mikroorganisme. Namun, perubahan warna, aroma, jumlah, atau tekstur cairan bisa menandakan keputihan abnormal yang perlu diperiksa.
Salah satu tindakan yang mungkin dokter pertimbangkan untuk membantu menangani keluhan tersebut adalah vaginal toilet. Prosedur ini bertujuan membersihkan cairan, lendir, atau sekret berlebih pada area vagina menggunakan teknik medis yang terkontrol.
Mengenali Keputihan Normal dan Keputihan Abnormal
Keputihan normal umumnya berwarna bening atau putih, tidak berbau menyengat, serta tidak menimbulkan rasa gatal atau nyeri. Jumlah dan teksturnya bisa berubah mengikuti siklus menstruasi, kehamilan, aktivitas seksual, atau penggunaan kontrasepsi hormonal.
Menurut NHS, perubahan cairan vagina yang disertai bau amis, tekstur sangat kental, warna hijau atau kuning, nyeri panggul, perdarahan, luka, atau lepuhan bisa berkaitan dengan kondisi yang memerlukan pemeriksaan medis.
Keputihan perlu mendapat perhatian ketika muncul bersama gejala berikut:
- Bau amis atau aroma tidak sedap yang menetap
- Warna abu-abu, kuning, hijau, atau bercampur darah
- Tekstur menggumpal atau berbusa
- Gatal, kemerahan, atau sensasi terbakar
- Nyeri saat buang air kecil
- Nyeri ketika berhubungan seksual
- Nyeri pada perut bagian bawah
- Perdarahan di luar jadwal menstruasi
Gejala-gejala tersebut tidak selalu menunjukkan infeksi menular seksual. Namun, pemeriksaan dokter diperlukan karena beberapa kondisi memiliki ciri yang serupa.
Apa Saja Penyebab Keputihan Abnormal?
Keputihan abnormal bukan satu jenis penyakit. Keluhan ini bisa muncul akibat perubahan keseimbangan mikroorganisme vagina, infeksi, iritasi, atau masalah kesehatan lainnya.
1. Vaginosis bakterialis
Vaginosis bakterialis terjadi ketika keseimbangan bakteri di dalam vagina berubah. Kondisi ini sering menyebabkan cairan tipis berwarna putih atau abu-abu dengan bau amis.
CDC menjelaskan bahwa vaginosis bakterialis juga bisa disertai rasa gatal, nyeri, sensasi terbakar pada vagina, atau rasa perih ketika buang air kecil.
2. Kandidiasis vagina
Pertumbuhan jamur Candida yang berlebihan bisa menyebabkan keputihan putih kental dan menggumpal. Keluhan sering disertai gatal, kemerahan, atau iritasi di sekitar vulva.
3. Trikomoniasis
Trikomoniasis merupakan infeksi menular seksual akibat parasit. Kondisi ini bisa menimbulkan cairan berwarna kuning kehijauan, berbusa, berbau, serta disertai iritasi.
4. Gonore atau klamidia
Sebagian pasien dengan gonore atau klamidia tidak mengalami gejala. Pada pasien lain, infeksi bisa memicu perubahan cairan vagina, nyeri saat buang air kecil, nyeri panggul, atau perdarahan di luar menstruasi.
5. Iritasi noninfeksi
Sabun berpewangi, antiseptik, produk pembersih kewanitaan, pembalut beraroma, atau bahan kimia tertentu bisa mengiritasi area vulva dan vagina. Kondisi hormonal juga bisa memengaruhi kelembapan dan kesehatan jaringan vagina.
Karena penyebabnya beragam, penggunaan obat antijamur atau antibiotik tanpa pemeriksaan berisiko tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Baca juga: Apa Itu Trikomoniasis? Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya
Bagaimana Vaginal Toilet Membantu Menangani Keputihan?
Vaginal toilet membantu membersihkan sekret atau cairan berlebih secara terkontrol. Pada pasien tertentu, tindakan ini juga membantu mengurangi rasa tidak nyaman yang muncul akibat penumpukan cairan vagina.
Namun, prosedur tersebut tidak selalu menghilangkan penyebab utama keputihan. Bila pemeriksaan menunjukkan infeksi bakteri, jamur, parasit, atau infeksi menular seksual, dokter akan memilih terapi yang sesuai dengan hasil evaluasi.
Dengan kata lain, penanganan keputihan abnormal dapat melibatkan beberapa langkah:
- Konsultasi mengenai keluhan dan riwayat kesehatan.
- Pemeriksaan fisik pada area genital.
- Pemeriksaan cairan vagina atau tes IMS jika ada indikasi.
- Vaginal toilet bila dokter menilai tindakan tersebut sesuai.
- Pemberian obat berdasarkan penyebab.
- Evaluasi ulang bila keluhan belum membaik atau berulang.
Pendekatan ini lebih tepat daripada hanya membersihkan cairan yang terlihat tanpa menangani penyebabnya.
Vaginal Toilet Tidak Sama dengan Douching Mandiri
Pasien perlu membedakan vaginal toilet yang dilakukan secara medis dari vaginal douching atau membilas bagian dalam vagina sendiri menggunakan air, antiseptik, pewangi, maupun campuran tertentu.
American College of Obstetricians and Gynecologists atau ACOG tidak menganjurkan douching. Kebiasaan ini bisa menghilangkan bakteri pelindung dan mengganggu keseimbangan alami vagina. ACOG menyarankan pembersihan bagian luar atau vulva menggunakan air hangat tanpa memasukkan cairan pembersih ke dalam vagina.
Karena itu, hindari mencoba meniru prosedur vaginal toilet di rumah. Penggunaan bahan yang tidak tepat berisiko menyebabkan iritasi, menutupi gejala, atau memperburuk ketidakseimbangan mikroorganisme.




