Jumat, 23 Okt 2026

Pasangan Memiliki Herpes Genital: Bagaimana Mengurangi Risiko Penularan?

Mengetahui pasangan terkena herpes genital sering memunculkan pertanyaan tentang keamanan hubungan seksual. Apakah pasangan yang tidak terinfeksi pasti akan tertular? Apakah hubungan intim masih aman?

Herpes genital memang bisa menular melalui kontak seksual, termasuk saat tidak ada luka yang terlihat. Namun, pasangan bisa mengambil beberapa langkah untuk mencegah penularan herpes genital atau setidaknya menekan risikonya. Strategi ini mencakup mengenali tanda kekambuhan, menghindari hubungan seksual pada waktu tertentu, memakai kondom secara konsisten, hingga membahas terapi antivirus dengan dokter.

Bagaimana Mencegah Penularan Herpes Genital dari Pasangan?

1. Hindari hubungan seksual saat gejala muncul

Hindari hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral ketika pasangan sedang mengalami luka, lepuhan, atau gejala awal kekambuhan.

Sebelum luka muncul, sebagian orang merasakan sensasi kesemutan, gatal, nyeri, atau rasa terbakar di area yang biasa mengalami herpes. Fase ini disebut gejala prodromal dan tetap perlu dianggap sebagai periode berisiko.

NHS menyarankan untuk hindari aktivitas seksual sejak muncul sensasi yang mengarah pada kekambuhan sampai luka sembuh.

2. Gunakan kondom secara konsisten

Kondom membantu mengurangi kontak langsung dengan sebagian area genital sehingga risiko transmisi HSV ikut turun.

Namun, kondom tidak memberi perlindungan penuh terhadap herpes genital. Virus masih bisa berada pada kulit di sekitar kemaluan, pangkal penis, skrotum, bokong, atau area lain yang tidak tertutup kondom.

WHO menegaskan bahwa penggunaan kondom yang benar dan konsisten mengurangi risiko penularan, tetapi HSV tetap mungkin menyebar melalui area kulit yang tidak tertutup.

Karena itu, penggunaan kondom sebaiknya berjalan bersama langkah pencegahan lainnya.

3. Kenali pola kekambuhan bersama pasangan

Pasangan yang sudah lama hidup dengan herpes genital sering mulai mengenali tanda awal kekambuhan. Catatan sederhana tentang waktu munculnya gejala dan pemicu yang dirasakan bisa membantu mengenali pola tersebut.

Keterbukaan juga penting. Pasangan sebaiknya merasa nyaman memberi tahu ketika muncul sensasi awal atau luka sehingga hubungan seksual bisa ditunda sampai kondisi membaik.

Cara ini tidak menghilangkan kemungkinan penularan tanpa gejala, tetapi membantu menghindari kontak seksual ketika risiko sedang lebih tinggi.

4. Diskusikan terapi antivirus supresif dengan dokter

Pada sebagian pasien dengan HSV-2 genital simptomatik, dokter mungkin mempertimbangkan terapi antivirus supresif atau terapi harian untuk mengurangi kekambuhan. Terapi tersebut juga bisa menjadi salah satu bagian dari strategi untuk menekan risiko transmisi ke pasangan.

CDC menyebut terapi antivirus supresif tertentu terbukti menurunkan risiko penularan HSV-2 pada pasangan heteroseksual dengan status HSV yang berbeda, terutama bila dikombinasikan dengan kondom dan menghindari hubungan seksual saat kekambuhan.

Terapi supresif tidak selalu perlu untuk setiap orang. Jenis HSV, frekuensi kekambuhan, riwayat kesehatan, serta kondisi pasangan perlu dokter pertimbangkan sebelum memilih terapi.

Perlukah Pasangan yang Tidak Bergejala Tes Herpes?

Tidak semua orang tanpa gejala otomatis membutuhkan tes herpes. Pemilihan tes perlu disesuaikan dengan riwayat gejala, paparan, serta tujuan pemeriksaan.

Pada pasangan dari seseorang dengan HSV-2 genital simptomatik, CDC menyebut tes antibodi HSV tipe spesifik dapat dipertimbangkan untuk mengetahui apakah pasangan sudah memiliki antibodi HSV atau masih berisiko tertular.

Namun, tes darah herpes memiliki keterbatasan. Hasil positif tidak menunjukkan kapan infeksi terjadi atau dari siapa seseorang mendapat virus.

Jika muncul luka atau lepuhan baru pada area genital, sebaiknya konsultasi ketika lesi masih ada. Dokter bisa menilai bentuk lesi dan menentukan jenis tes yang paling sesuai.

Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Dokter?

Konsultasi medis layak dipertimbangkan jika pasangan baru mendapat diagnosis herpes genital, kekambuhan sering terjadi, atau Anda ingin memahami risiko penularan secara lebih spesifik.

Evaluasi dokter juga penting bila Anda mengalami luka, lepuhan, rasa terbakar, nyeri, atau keluhan baru pada area genital setelah kontak seksual. Gejala saja belum cukup untuk memastikan herpes karena beberapa penyakit lain bisa tampak serupa.

Konsultasi juga sangat penting jika salah satu pasangan sedang hamil atau merencanakan kehamilan. Herpes genital memerlukan perhatian khusus pada kehamilan karena infeksi yang baru didapat, terutama pada akhir kehamilan, berkaitan dengan risiko penularan HSV kepada bayi saat persalinan.

Konsultasi Herpes Genital di DVX Medical Jakarta

Menjalani hubungan dengan pasangan yang memiliki herpes genital membutuhkan informasi yang tepat, bukan rasa takut atau stigma. Risiko setiap pasangan juga tidak selalu sama.

Dokter spesialis kulit dan kelamin di DVX Medical Jakarta akan menilai riwayat gejala, kondisi pasangan, serta faktor risiko lain. Dokter kemudian menentukan apakah tes diperlukan dan membahas pilihan penanganan maupun strategi untuk mengurangi risiko penularan.

Jika Anda atau pasangan masih ragu tentang keamanan hubungan seksual setelah diagnosis herpes genital, konsultasi medis membantu memperoleh saran yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Related Article

Apa Itu Herpes Labialis dan Bagaimana Cara Mengobatinya?

Herpes labialis, atau yang lebih dikenal sebagai cold sore a...

7 Cara Mencegah Penularan Herpes Genital ke Pasangan

Herpes genital adalah salah satu infeksi menular seksual yan...

Perbedaan Herpes Genital dan Herpes Mulut, Bagaimana Cara Membedakannya?

Artikel ini akan membantu Anda memahami perbedaan lengkap an...

Risiko Penularan HIV dari Orang dengan Riwayat HIV ke Pasangan

Menjalin hubungan harmonis dengan pasangan memerlukan saling...

Herpes Simpleks dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Kulit

Herpes simpleks adalah infeksi yang disebabkan oleh virus he...