Baru mengalami hubungan seksual yang berisiko lalu ingin seg...
Tes IMS Apa Saja yang Perlu Dilakukan Setelah Hubungan Berisiko?
Setelah hubungan seksual yang dianggap berisiko, pertanyaan yang sering muncul adalah: tes apa saja yang perlu diperiksa? Jawabannya berbeda untuk setiap orang. Jenis tes IMS setelah hubungan berisiko bergantung pada bentuk kontak seksual, bagian tubuh yang terpapar, penggunaan kondom, riwayat vaksinasi, gejala, serta waktu sejak paparan.
Tes yang umum dipertimbangkan antara lain tes HIV, sifilis, gonore, dan klamidia. Pada kondisi tertentu, dokter juga perlu menilai risiko hepatitis B, hepatitis C, trikomoniasis, atau infeksi lain.
Waktu tes juga penting. Tes yang terlalu awal bisa memberi hasil negatif meski infeksi masih berada dalam masa jendela. Karena itu, konsultasi membantu menentukan jenis tes dan kapan tes perlu dilakukan atau diulang.
Tes IMS Apa Saja yang Perlu Dilakukan Setelah Hubungan Berisiko?
Tidak ada satu paket tes yang tepat untuk semua orang. Menurut CDC, jenis pemeriksaan IMS perlu mempertimbangkan usia, riwayat seksual, praktik seksual, gejala, dan faktor risiko masing-masing individu. Banyak IMS juga tidak menimbulkan gejala sehingga kondisi tubuh yang terasa normal belum tentu menyingkirkan infeksi.
Beberapa tes yang sering menjadi bagian dari evaluasi meliputi:
1. Tes HIV
Tes HIV bertujuan mengetahui apakah terjadi infeksi HIV. Jenis tes yang tersedia memiliki masa jendela berbeda.
CDC menjelaskan bahwa tes antigen/antibodi laboratorium dari darah vena umumnya mulai mendeteksi HIV sekitar 18–45 hari setelah paparan. Tes antibodi memiliki masa jendela yang lebih panjang, sekitar 23–90 hari, sedangkan nucleic acid test (NAT) umumnya sekitar 10–33 hari.
Hasil negatif yang diperoleh terlalu dekat dengan waktu paparan belum tentu menjadi hasil akhir. Dokter mungkin menyarankan tes ulang sesuai jenis tes dan waktu paparan.
Jika paparan HIV baru terjadi kurang dari 72 jam, jangan menunggu sampai waktu tes tiba. Konsultasi medis perlu dilakukan secepatnya untuk menilai apakah profilaksis pasca pajanan atau PEP HIV diperlukan. PEP paling efektif jika dimulai sesegera mungkin dan tidak direkomendasikan dimulai lebih dari 72 jam setelah paparan.
2. Tes Sifilis
Tes sifilis biasanya memakai sampel darah untuk mencari tanda infeksi Treponema pallidum, bakteri penyebab sifilis.
Sifilis bisa menimbulkan luka yang tidak terasa nyeri, ruam, atau keluhan lain. Namun, sebagian orang tidak menyadari gejala awalnya. Karena antibodi memerlukan waktu untuk terbentuk, tes yang terlalu dini juga belum tentu menangkap infeksi.
Pada paparan yang dinilai berisiko dan hasil awal masih negatif, CDC mencantumkan tes ulang sifilis sekitar 4–6 minggu dan 3 bulan setelah paparan dalam situasi ketika infeksi pada sumber paparan belum bisa disingkirkan.
3. Tes Gonore dan Klamidia
Gonore dan klamidia termasuk infeksi bakteri yang sering tidak menimbulkan gejala. Jika muncul keluhan, seseorang mungkin mengalami nyeri atau rasa panas saat buang air kecil, cairan tidak biasa dari penis atau vagina, nyeri panggul, maupun keluhan pada rektum atau tenggorokan.
Dokter umumnya menggunakan tes NAAT (nucleic acid amplification test) untuk mencari materi genetik bakteri penyebab gonore dan klamidia.
Lokasi pengambilan sampel perlu sesuai dengan lokasi paparan. Selain urine atau swab genital, dokter mungkin menyarankan swab tenggorokan setelah seks oral atau swab rektum setelah paparan melalui seks anal. CDC menekankan tes pada lokasi anatomis yang terpapar karena infeksi ekstragenital sering tidak menimbulkan keluhan.
Pada paparan yang sangat baru, hasil awal juga bisa belum menangkap infeksi. Dalam panduan pascapajanan tertentu, CDC menyebut NAAT gonore dan klamidia bisa diulang sekitar 1–2 minggu setelah paparan jika hasil awal negatif dan pasien belum mendapat terapi presumtif.
4. Tes Hepatitis B
Virus hepatitis B (HBV) bisa menular melalui hubungan seksual. Dokter akan mempertimbangkan status vaksin hepatitis B, jenis paparan, serta status hepatitis B pasangan bila diketahui.
Pada orang yang belum mendapat vaksin lengkap, dokter mungkin menyarankan vaksin hepatitis B. Jika sumber paparan diketahui positif HBsAg, penanganan pascapajanan juga bisa melibatkan hepatitis B immune globulin (HBIG), bergantung pada riwayat vaksinasi.
CDC menyarankan tindakan pencegahan pascapajanan hepatitis B dimulai sesegera mungkin saat memang ada indikasi. Untuk paparan seksual, manfaat profilaksis diperkirakan tidak melebihi 14 hari setelah paparan.
5. Apakah Hepatitis C Juga Perlu Diperiksa?
Tidak semua paparan seksual memiliki risiko hepatitis C yang sama. Penularan hepatitis C melalui hubungan seksual umumnya lebih jarang dibanding penularan melalui darah.
Namun, dokter mungkin mempertimbangkan tes berdasarkan riwayat dan faktor risiko, misalnya adanya kontak dengan darah, pasangan dengan hepatitis C, penggunaan jarum bersama, atau faktor risiko lain.
Karena kebutuhan tes berbeda pada tiap kasus, konsultasi lebih tepat daripada memilih tes sendiri hanya berdasarkan daftar paket laboratorium.
Mengapa Jenis Hubungan Seksual Mempengaruhi Tes yang Dipilih?
Dokter perlu mengetahui lokasi paparan karena tes urine atau darah saja belum tentu menjawab seluruh risiko.
Sebagai contoh, hubungan seks oral bisa menimbulkan paparan pada tenggorokan, sedangkan seks anal reseptif melibatkan rektum. Gonore atau klamidia di lokasi tersebut bisa muncul tanpa gejala.
Informasi tentang jenis kontak seksual bukan untuk menghakimi pasien. Data tersebut membantu dokter memilih sampel dan tes yang paling relevan.
Kesimpulan
Tes IMS setelah hubungan berisiko tidak selalu berarti memeriksa semua jenis IMS sekaligus. Tes HIV, sifilis, gonore, dan klamidia sering menjadi pertimbangan utama, sedangkan hepatitis B, hepatitis C, trikomoniasis, herpes, atau pemeriksaan lain perlu disesuaikan dengan riwayat paparan dan kondisi pasien.
Waktu tes sama pentingnya dengan jenis tes. Pemeriksaan yang terlalu dini bisa menghasilkan hasil negatif saat infeksi belum terdeteksi.
Jika Anda tidak yakin mengenai jenis paparan atau waktu tes, konsultasi dengan dokter Sp.KK/Sp.DVE membantu menentukan pemeriksaan yang sesuai tanpa mengandalkan diagnosis mandiri.
Referensi
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Getting Tested for STIs. 2026
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Getting Tested for HIV. 2026C
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). STI Screening Recommendations. 2024
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Antiretroviral Postexposure Prophylaxis Recommendations. 2025
- World Health Organization (WHO). Sexually Transmitted Infections (STIs). 2025




