Tahukah Anda bahwa banyak orang yang mengidap infeksi menula...
Kenapa Cek Darah Rutin Penting untuk Deteksi Penyakit Kelamin Tanpa Gejala?
Tidak semua infeksi menular seksual (IMS) menimbulkan keluhan yang jelas. Seseorang bisa merasa sehat, tidak mengalami luka, nyeri saat buang air kecil, keputihan abnormal, atau ruam, tetapi tetap memiliki infeksi tertentu. Inilah alasan cek darah rutin bisa menjadi bagian penting dalam pemeriksaan kesehatan seksual, terutama bagi orang dengan faktor risiko tertentu.
Namun, istilah cek darah rutin perlu dipahami secara tepat. Dalam konteks kesehatan seksual, pemeriksaan ini bukan sekadar tes darah umum seperti hitung darah lengkap. Dokter akan memilih pemeriksaan darah tertentu sesuai infeksi yang ingin dideteksi. Selain itu, tidak semua penyakit kelamin bisa diketahui melalui darah.
Riwayat seksual, waktu paparan, jenis kontak seksual, gejala, kehamilan, serta faktor risiko lain membantu dokter menentukan pemeriksaan yang sesuai. Karena itu, memilih tes yang tepat lebih penting daripada melakukan banyak pemeriksaan tanpa indikasi yang jelas.
Apa yang Bisa Diketahui dari Cek Darah Rutin?
Tes darah digunakan untuk mencari infeksi tertentu atau respons tubuh terhadap suatu infeksi. Beberapa pemeriksaan yang mungkin dipertimbangkan dalam skrining kesehatan seksual antara lain:
1. Sifilis
Pemeriksaan darah bisa membantu mendeteksi antibodi yang berkaitan dengan infeksi Treponema pallidum, bakteri penyebab sifilis.
Menurut WHO, diagnosis sifilis mempertimbangkan riwayat klinis dan seksual, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium, termasuk tes darah. WHO juga menjelaskan bahwa banyak orang dengan sifilis tidak menyadari gejala yang dialaminya.
Hasil pemeriksaan sifilis tetap perlu dinilai oleh dokter karena terdapat beberapa jenis tes, dan interpretasinya juga dipengaruhi riwayat pengobatan maupun pemeriksaan sebelumnya.
2. HIV
HIV bisa diperiksa menggunakan sampel darah atau metode lain sesuai jenis tes yang digunakan.
CDC merekomendasikan setiap orang usia 13–64 tahun menjalani pemeriksaan HIV setidaknya sekali sebagai bagian dari layanan kesehatan rutin, sedangkan orang dengan faktor risiko tertentu perlu menjalani pemeriksaan lebih sering.
Seseorang sebaiknya tidak menunggu munculnya keluhan untuk mempertimbangkan tes HIV apabila memiliki riwayat paparan yang relevan.
3. Hepatitis B
Hepatitis B bisa menular melalui darah maupun hubungan seksual. Infeksi ini juga sering tidak menyebabkan keluhan pada tahap tertentu.
CDC merekomendasikan skrining hepatitis B setidaknya sekali seumur hidup untuk semua orang dewasa berusia 18 tahun ke atas serta pemeriksaan berkala bagi orang dengan risiko paparan berkelanjutan. Pemeriksaannya menggunakan tes darah untuk melihat penanda infeksi maupun kekebalan terhadap hepatitis B.
Siapa yang Perlu Mempertimbangkan Skrining IMS Secara Rutin?
Frekuensi pemeriksaan tidak sama pada setiap orang. Skrining IMS perlu dipertimbangkan terutama jika Anda:
- memiliki pasangan seksual baru;
- memiliki lebih dari satu pasangan seksual;
- pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom;
- memiliki pasangan yang diketahui mengalami IMS;
- pernah didiagnosis IMS sebelumnya;
- sedang menggunakan atau mempertimbangkan PrEP untuk pencegahan HIV;
- sedang hamil atau merencanakan kehamilan; atau
- mengalami paparan seksual yang menimbulkan kekhawatiran.
Orang tanpa gejala juga bisa memerlukan pemeriksaan berdasarkan usia, kondisi kesehatan, kehamilan, maupun profil risiko.
Waktu Melakukan Pemeriksaan Juga Penting
Pemeriksaan yang dilakukan terlalu cepat setelah paparan belum tentu langsung mendeteksi infeksi. Setiap tes memiliki masa jendela (window period), yaitu periode antara terjadinya paparan dan saat penanda infeksi sudah cukup terdeteksi melalui pemeriksaan.
Karena itu, hasil negatif segera setelah paparan tidak selalu menutup kemungkinan infeksi. Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan ulang berdasarkan jenis infeksi, metode tes, serta waktu terjadinya paparan.
Jika Anda baru mengalami paparan seksual dan khawatir terhadap HIV atau IMS lainnya, sebaiknya jangan menunggu munculnya gejala atau jadwal pemeriksaan rutin. Konsultasi sedini mungkin membantu dokter menilai apakah ada tindakan pencegahan maupun pemeriksaan yang perlu segera dilakukan.
Baca juga: Window Period HIV: Kapan Hasil Tes HIV Bisa Dipercaya?
Kesimpulan
Cek darah rutin berperan penting dalam membantu mendeteksi beberapa infeksi yang bisa berlangsung tanpa gejala, seperti sifilis, HIV, dan hepatitis B. Namun, pemeriksaan darah tidak mencakup seluruh penyakit kelamin. Gonore dan klamidia, misalnya, umumnya memerlukan urine atau swab sesuai lokasi paparan.
Karena kebutuhan tes dan waktu pemeriksaan berbeda pada setiap orang, hindari menentukan paket pemeriksaan hanya berdasarkan asumsi sendiri. Konsultasi dengan dokter Sp.KK/Sp.DVE membantu memilih skrining berdasarkan riwayat paparan dan kondisi klinis sehingga hasil pemeriksaan lebih bermakna untuk menentukan langkah selanjutnya.




