Senin, 08 Jun 2026

Apakah Eksim Disebabkan oleh Makanan? Yang Perlu Diketahui Pasien Indonesia

Pertanyaan ini muncul hampir di setiap konsultasi dermatitis atopik. Pasien dan keluarga sering datang dengan daftar makanan yang sudah mereka hindari — kadang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun — karena diyakini sebagai penyebab eksim. Jawabannya lebih bernuansa dari sekadar ya atau tidak.

Apakah Makanan Bisa Memicu Eksim?

Ya, pada sebagian pasien makanan bisa menjadi faktor. Namun cara makanan berkontribusi pada eksim bervariasi, dan memahami perbedaannya penting untuk mengambil keputusan yang tepat.

Ada tiga mekanisme yang perlu dibedakan:

  • Alergi makanan IgE-mediated: reaksi imun terhadap protein makanan tertentu. Nyata, dapat diuji, dan lebih sering relevan pada anak dengan AD sedang hingga berat. Inilah yang dimaksud dengan 'alergi makanan' dalam pengertian klinis yang lazim.
  • Reaksi histamin: mekanisme yang berbeda, tidak tertangkap oleh tes alergi standar. Berkaitan dengan kandungan histamin dalam makanan tertentu, bukan respons imun terhadap protein makanan. (reaksi ini berbeda dari alergi makanan biasa dan umumnya tidak terdeteksi oleh tes alergi standar)
  • Pantangan tanpa dasar klinis: pembatasan makanan yang berasal dari kebiasaan atau tradisi, bukan mekanisme klinis yang terbukti pada kondisi dermatitis atopik secara spesifik. (bukan IgE-mediated, bukan reaksi histamin)

Pertanyaan yang lebih tepat bukan apakah makanan bisa memicu eksim — tetapi pada siapa, melalui mekanisme apa, dan dalam kondisi seperti apa.

Namun perlu diingat: sebagian besar pasien dermatitis atopik tidak memiliki alergi makanan sebagai penyebab utama penyakitnya. Makanan adalah satu faktor di antara banyak faktor yang perlu dievaluasi.

Bukan Alergi, Tetapi Histamin: Mengapa Kondisi Makanan Bisa Menjadi Faktor

Seorang pasien pernah menceritakan pengalamannya: ia rutin makan siang di sebuah restoran yang sudah buka sejak pagi. Ketika makan sekitar pukul 12.00–13.00, tidak ada masalah. Suatu hari ia datang sekitar pukul 14.30 — menu yang sama, restoran yang sama. Malamnya eksimnya kambuh. Bukan karena alergi terhadap bahan makanannya. Bukan karena masakannya berbeda. Yang berbeda hanya satu: sambalnya sudah jauh lebih lama disiapkan.

Apa yang kemungkinan terjadi pada kasus ini dapat dijelaskan melalui mekanisme yang sudah dipahami dalam ilmu pangan dan imunologi klinis.

Terasi — bahan dasar sambal yang umum — adalah produk fermentasi udang dengan kandungan histamin yang tinggi sejak awal. Ini adalah fakta ilmu pangan yang mapan. Bakteri penghasil histamin berkembang pada suhu 28–32°C, yang merupakan suhu ruang tipikal di Indonesia. Sambal terasi yang disiapkan pada pagi hari dan disajikan beberapa jam kemudian telah mengalami akumulasi histamin yang bermakna.

Pada pasien dermatitis atopik yang sensitif, peningkatan asupan histamin dari makanan dapat memperburuk rasa gatal — yang pada gilirannya memperparah scratch-itch cycle dan memperburuk kondisi kulit. Ini berbeda dari mekanisme urtikaria, di mana histamin bertindak sebagai pemicu langsung. Pada AD, histamin lebih tepat dipahami sebagai faktor yang memperburuk gejala yang sudah ada, bukan sebagai penyebab langsung kambuhnya penyakit.

Penting untuk dipahami: reaksi histamin jenis ini tidak akan terdeteksi oleh pemeriksaan alergi standar seperti skin prick test atau tes IgE spesifik. Yang dibutuhkan adalah riwayat klinis yang teliti — bukan panel laboratorium.

Pola yang sama berlaku pada hidangan seafood berbumbu lengkap. Seafood mengandung histidin dalam jumlah tinggi — prekursor histamin. Ketika dikombinasikan dengan bumbu berbahan terasi yang telah disiapkan beberapa jam sebelumnya, beban histamin total dari hidangan tersebut dapat menghasilkan paparan histamin yang lebih tinggi dibandingkan masing-masing komponen secara terpisah. Pasien yang menyimpulkan 'alergi seafood' mungkin sebenarnya bereaksi terhadap beban histamin kumulatif pada saat konsumsi.

Pola yang Sering Dilaporkan pada Hidangan Indonesia

Beberapa pasien melaporkan pola serupa pada hidangan Indonesia yang mengandung bahan fermentasi atau yang disiapkan beberapa jam sebelum disajikan. Mekanisme yang mungkin berperan adalah peningkatan kandungan histamin yang memperburuk gatal, meskipun penelitian spesifik pada hidangan Indonesia masih terbatas.

Bumbu seafood (ikan bakar, udang bakar, kepiting):

Beberapa pasien yang melaporkan reaksi setelah makan hidangan seafood berbumbu lengkap menunjukkan toleransi terhadap seafood segar dengan bumbu minimal. Pola ini konsisten dengan hipotesis beban histamin kumulatif dari kombinasi seafood dan bumbu berbahan terasi.

Pindang:

Pindang, sebagai produk fermentasi dan penggaraman ikan, memiliki kandungan histamin yang secara umum lebih tinggi dibandingkan ikan segar — ini adalah fakta ilmu pangan yang mapan. Beberapa pasien melaporkan toleransi terhadap ikan segar tetapi reaksi terhadap pindang.

Tahu tek — Surabaya:

Di Surabaya, beberapa pasien melaporkan pola serupa pada tahu tek. Petis udang sebagai saus utamanya merupakan produk fermentasi udang — kandungan histamin pada produk fermentasi udang adalah fakta ilmu pangan yang mapan, dan petis dapat diperlakukan analog dengan terasi dalam konteks ini. Pola reaksi yang dilaporkan berkaitan dengan kondisi saus, bukan bahan dasarnya.

Rawon — Jakarta:

Di Jakarta, pola serupa ditemukan pada rawon. Beberapa pasien melaporkan toleransi terhadap rawon buatan sendiri — dengan bahan yang sama dan proses yang serupa — namun mengalami reaksi setelah makan rawon di restoran. Kluwek sebagai bahan khas rawon adalah biji yang melalui proses fermentasi, meskipun mekanisme fermentasinya berbeda dari produk seafood dan data histamin spesifik pada kluwek belum tersedia. Pola home cook vs restoran yang konsisten ini mengarah pada faktor kondisi penyimpanan dan persiapan di lingkungan restoran sebagai variabel yang relevan, bukan semata-mata kandungan bahan.

Petai dan jengkol:

Beberapa pasien melaporkan perburukan gejala setelah mengonsumsi petai atau jengkol. Mekanisme yang mungkin berperan adalah efek iritan dari senyawa sulfur pada sebagian individu — meskipun ini belum dikonfirmasi sebagai pemicu AD yang mapan. Ini bukan reaksi alergi dan bukan reaksi histamin, sehingga tidak akan tertangkap oleh pemeriksaan alergi standar.

Pola ini ditemukan pada berbagai hidangan khas Indonesia — termasuk tahu tek dengan petis udang di Surabaya, dan rawon di Jakarta — meskipun penelitian klinis spesifik pada populasi Indonesia masih diperlukan untuk konfirmasi lebih lanjut.

Jika Anda mengenali pola ini pada diri Anda — reaksi yang muncul setelah makanan tertentu tetapi hasil tes alergi negatif — ini adalah informasi klinis yang penting untuk didiskusikan dengan dokter spesialis.

Kapan Pemeriksaan Alergi Makanan Perlu Dilakukan?

Tidak semua pasien AD memerlukan pemeriksaan alergi makanan. Evaluasi umumnya dipertimbangkan pada:

  • Anak dengan AD sedang hingga berat yang tidak merespons terapi standar dengan optimal
  • Pasien dengan korelasi temporal yang jelas dan reprodusibel antara konsumsi makanan tertentu dan kambuhnya eksim

Yang umumnya tidak memerlukan pemeriksaan rutin: pasien AD ringan, dewasa tanpa korelasi makanan-kambuh yang jelas.

Metode yang tersedia: skin prick test (SPT), tes IgE spesifik (RAST), dan oral food challenge di bawah pengawasan klinis. Oral food challenge adalah standar konfirmasi tertinggi tetapi harus dilakukan dengan pengawasan medis.

Penting: pemeriksaan ini tidak akan mendeteksi reaksi histamin seperti yang dibahas di atas. Untuk pola histamin, yang diperlukan adalah riwayat klinis yang teliti — pertanyaan tentang kapan makanan disiapkan, bukan hanya apa yang dimakan.

Baca Juga: Mengapa Eksim Tetap Kambuh Meski Sudah Berobat ke Dokter Spesialis?

Related Article

Rinvoq (upadacitinib) untuk Dermatitis Atopik: Apa yang Perlu Diketahui?

Rinvoq bukan dipertimbangkan karena pasien ingin mencoba oba...

Apakah Eksim Disebabkan oleh Stres? Memahami Siklus Stres, Gatal, dan Kurang Tidur

Stres tidak menyebabkan dermatitis atopik. Tetapi pada pasie...

Freorla (abrocitinib) untuk Dermatitis Atopik: Apa yang Perlu Diketahui?

Freorla adalah nama merek abrocitinib yang tersedia di Indon...

Psoriasis dan Kehamilan: Apa yang Perlu Diketahui?

Bagi pasien psoriasis yang sedang merencanakan kehamilan, se...

Apakah Psoriasis Disebabkan oleh Stres?

Banyak pasien menyadari psoriasis mereka memburuk setelah pe...