Dupilumab memblokir jalur IL-4 dan IL-13 yang mendorong infl...
Bagaimana Cara Kerja Dupixent (Dupilumab) untuk Dermatitis Atopik?
Selama bertahun-tahun, pengobatan dermatitis atopik berfokus pada menekan peradangan secara luas — melalui steroid topikal, imunosupresan oral, atau fototerapi. Pendekatan ini efektif pada sebagian pasien, namun tidak menyentuh akar mekanisme penyakit. Dupixent (dupilumab) mengubah pendekatan tersebut secara fundamental.
Mengapa Pendekatan yang Ditarget Ini Penting?
Selama puluhan tahun, pasien dermatitis atopik berat menghadapi pilihan yang terbatas — menoleransi penyakit atau menggunakan imunosupresan dengan konsekuensi jangka panjang yang signifikan. Dupixent menawarkan pendekatan yang berbeda — bekerja pada mekanisme spesifik penyakit, dengan profil keamanan jangka panjang yang tidak sama dengan imunosupresan konvensional.
Di Indonesia, tidak sedikit pasien dermatitis atopik sedang hingga berat yang menjalani pengobatan bertahun-tahun dengan hasil yang belum optimal. Sebagian tetap mengalami gatal berat, gangguan tidur, dan kekambuhan berulang meskipun telah mencoba berbagai terapi. Karena itu, evaluasi oleh Sp.DVE penting untuk menentukan apakah terapi lanjutan seperti Dupixent memang sesuai dengan kondisi pasien.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Dupixent (Dupilumab)
Hubungi Klinik DVX Medical Sekarang untuk Lakukan Pemeriksaan Oleh Dokter Spesialis Profesional!
Kunjungi DVX Medical Jakarta dan dapatkan Pemeriksaan yang tepat dan aman bersama dokter spesialis profesional. Jangan tunda pemeriksaan Anda, segera konsultasi sekarang agar penyakit terdeteksi lebih dini dan cepat ditangani!
Mengapa Dermatitis Atopik Terus Meradang?
Dermatitis atopik bukan sekadar kulit kering atau alergi biasa. Pada intinya, penyakit ini melibatkan disfungsi sistem imun yang mendorong peradangan kronis melalui jalur yang disebut respons Th2.
Dalam kondisi normal, sistem imun menyeimbangkan berbagai jalur respons. Pada pasien dermatitis atopik, jalur Th2 menjadi dominan dan berlebihan — menghasilkan kadar sitokin inflamasi yang tinggi, terutama interleukin-4 (IL-4) dan interleukin-13 (IL-13).
Kedua sitokin inilah yang bertanggung jawab atas sebagian besar gejala yang muncul pada kulit: kerusakan lapisan pelindung kulit, gatal kronis, kemerahan, dan peradangan yang terus-menerus. Selama kedua sitokin ini tidak dikendalikan, peradangan akan terus berlanjut — terlepas dari seberapa rajin pasien menggunakan krim topikal.




