Kesehatan kelamin adalah salah satu aspek penting dalam menj...
Kutil Kelamin vs Luka Sifilis, Kenali Gejala dan Perbedaannya
Menemukan benjolan atau luka di area kelamin bisa menimbulkan rasa khawatir. Benjolan atau luka di area kelamin bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk kutil kelamin dan sifilis. Meski sama-sama termasuk infeksi menular seksual, keduanya memiliki penyebab, bentuk, gejala, dan cara penanganan yang berbeda.
Memahami perbedaan kutil kelamin dan sifilis dapat membantu mengenali tanda awal dan menentukan kapan perlu memeriksakan diri. Namun, diagnosis tidak sebaiknya hanya berdasarkan bentuk luka atau benjolan. Pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
World Health Organization (WHO) mencatat lebih dari 1 juta infeksi menular seksual yang dapat diobati terjadi setiap hari pada kelompok usia 15 sampai 49 tahun di dunia. Data ini menunjukkan bahwa infeksi menular seksual masih menjadi masalah kesehatan yang cukup umum.
Kutil Kelamin dan Luka Sifilis Sering Dianggap Sama
Kutil kelamin dan luka sifilis sama-sama dapat muncul di sekitar alat kelamin atau anus. Karena lokasinya mirip, sebagian orang sulit membedakan kedua kondisi tersebut.
Ciri-ciri kutil kelamin biasanya berupa benjolan kecil atau pertumbuhan pada permukaan kulit. Kutil dapat muncul satu per satu atau berkelompok. Pada beberapa orang, permukaannya tampak tidak rata dan menyerupai bunga kol. Dalam istilah medis, kutil kelamin disebut kondiloma akuminata dan disebabkan oleh infeksi HPV.
Sementara itu, luka sifilis pada tahap awal lebih sering berbentuk luka terbuka atau ulkus. Luka ini disebut chancre sifilis. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), chancre biasanya tidak terasa nyeri. Karena itu, luka dapat tidak disadari, terutama jika muncul di bagian tubuh yang sulit terlihat.
Kutil Kelamin vs Luka Sifilis, Apa Saja Perbedaannya?
Beberapa karakteristik berikut dapat membantu memahami kutil kelamin vs sifilis secara umum.
| Perbedaan | Kutil Kelamin | Luka Sifilis |
|---|---|---|
| Penyebab | Infeksi HPV | Bakteri Treponema pallidum |
| Bentuk | Benjolan atau pertumbuhan kulit | Luka atau ulkus |
| Nyeri | Biasanya tidak nyeri, terkadang gatal atau tidak nyaman | Chancre biasanya tidak nyeri |
| Lokasi | Genital dan sekitar anus | Genital, anus, rektum, bibir, atau mulut |
| Perjalanan | Kutil dapat bertahan, bertambah, atau muncul kembali | Sifilis berkembang melalui beberapa tahap |
| Diagnosis | Pemeriksaan dokter, tes tambahan bila diperlukan | Pemeriksaan klinis dan tes laboratorium |
Tabel tersebut hanya menunjukkan gambaran umum. Bentuk lesi dapat berbeda pada setiap orang sehingga pemeriksaan langsung tetap dibutuhkan.
Perbedaan Kutil Kelamin dan Sifilis Berdasarkan Gejala
Gejala kutil kelamin yang paling mudah dikenali adalah munculnya benjolan kecil pada area genital atau sekitar anus. Benjolan dapat tumbuh sendiri atau berkelompok. Sebagian orang juga mengalami rasa gatal atau tidak nyaman. Namun, infeksi HPV tidak selalu menimbulkan gejala. Seseorang bisa terinfeksi tanpa adanya kutil.
Pada sifilis tahap awal, tanda yang paling khas adalah chancre sifilis. Luka ini biasanya bertahan sekitar 3 sampai 6 minggu. Luka dapat menghilang dengan sendirinya, tetapi bukan berarti infeksinya sudah sembuh.
Jika sifilis tidak diobati, infeksi dapat masuk ke tahap berikutnya. Gejala sifilis pada tahap sekunder dapat berupa ruam kulit, termasuk pada telapak tangan atau kaki, pembengkakan kelenjar getah bening, demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan kelelahan. Karena gejalanya bisa ringan atau tidak terasa, sifilis dapat terlambat diketahui.
Risiko Menunda Pemeriksaan Kutil Kelamin dan Sifilis
Benjolan atau luka di area genital sebaiknya tidak dibiarkan tanpa pemeriksaan, terutama jika tidak kunjung membaik atau muncul setelah hubungan seksual berisiko.Kutil kelamin dapat bertambah besar, bertambah banyak, atau muncul kembali setelah terapi pada sebagian orang.
Sifilis memiliki risiko yang berbeda. Jika tidak diobati, infeksi dapat masuk ke fase laten ketika tidak ada gejala yang terlihat. Dalam jangka panjang, sifilis dapat memengaruhi saraf, mata, pendengaran, jantung, dan organ lain. Karena itu, hilangnya luka bukan tanda bahwa infeksi sudah benar-benar sembuh.




