Adanya benjolan di area kelamin sering kali menimbulkan rasa...
Selasa, 16 Des 2025
Bacterial Vaginosis, Infeksi Vagina yang Sering Disalahartikan
Pernahkah Anda mengalami keputihan dengan bau tidak sedap dan langsung membeli obat jamur di apotek? Anda tidak sendirian. Banyak wanita melakukan hal yang sama, padahal kondisi yang dialami bisa jadi bukanlah infeksi jamur, melainkan bacterial vaginosis (BV). Data WHO menunjukkan bahwa 23-29% wanita usia produktif di seluruh dunia mengalami BV, namun sering kali salah didiagnosis dan diobati sebagai infeksi jamur. Kesalahan ini bukan hanya membuat gejala tidak membaik, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi serius. Mari kita kenali lebih dalam tentang bacterial vaginosis dan mengapa kondisi ini begitu sering disalahartikan.
Mengapa Penyakit BV Sering Disalahartikan?
Salah satu alasan utama BV kerap disalahartikan sebagai infeksi jamur adalah kemiripan beberapa gejalanya. Banyak wanita yang mengalami keputihan dan ketidaknyamanan langsung berasumsi bahwa mereka mengalami infeksi jamur. Padahal, ada perbedaan signifikan antara keduanya:
Aspek | Bacterial Vaginosis | Infeksi Jamur |
Keputihan | Abu-abu atau putih keruh, encer | Putih kental seperti keju cottage |
Bau | Berbau amis, terutama setelah berhubungan intim | Tidak berbau atau bau ragi ringan |
Gatal | Ringan atau tidak ada | Sangat gatal dan mengganggu |
Rasa Terbakar | Mungkin saat buang air kecil | Umum terjadi di area vagina |
Kesalahpahaman ini sering membuat wanita melakukan self-diagnosis dan membeli obat antijamur yang sebenarnya tidak efektif untuk BV. Akibatnya, kondisi tidak membaik dan bahkan bisa memburuk.
Bahaya Bacterial Vaginosis Jika Tidak Diobati
Meskipun sekitar 30% kasus BV dapat sembuh sendiri, membiarkan kondisi ini tanpa pengobatan dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius:
Risiko pada Ibu Hamil:
- Kelahiran prematur atau persalinan preterm
- Berat bayi lahir rendah
- Ketuban pecah dini
- Infeksi cairan ketuban (korioamnionitis)
- Endometritis setelah melahirkan
Peningkatan Risiko Infeksi Menular Seksual: BV membuat vagina lebih rentan terhadap berbagai IMS, termasuk HIV, gonore, klamidia, herpes, dan HPV. Risiko tertular dapat meningkat hingga 3-4 kali lipat.
Komplikasi Ginekologi:
- Penyakit radang panggul (PID)
- Infeksi setelah prosedur ginekologi seperti histerektomi atau aborsi
- Risiko infertilitas
Rekurensi Tinggi: Data terbaru menunjukkan bahwa 50-66% wanita mengalami kekambuhan dalam waktu 6-12 bulan setelah pengobatan pertama jika tidak ditangani dengan tuntas. Inilah mengapa penanganan komprehensif dan follow-up penting dilakukan.




