Penyakit Sifilis: Penyebab, Gejala, dan Cara Pengobatannya

Penyakit Sifilis: Penyebab, Gejala, dan Cara Pengobatannya

Kamis, 30 Mei 2024
Sifilis atau dikenal juga dengan sebutan raja singa adalah penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak diobati dengan benar. Berikut ini ulasan lengkap tentang gejala, penyebab, dan cara mengobati sifilis.

Penyebab Sifilis Atau Raja Singa

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, yang umumnya menyebar melalui kontak seksual dengan orang yang terinfeksi. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil atau lecet di kulit atau selaput lendir. Selain melalui hubungan seksual, sifilis juga dapat menular dari ibu ke janin selama kehamilan, menyebabkan sifilis kongenital.

Gejala Penyakit Sifilis

Penyakit sifilis biasanya memiliki gejala yang dimulai dari munculnya luka di area kelamin, dubur, atau mulut. Pada umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri, tapi bisa menyerang dan merusak organ tubuh seperti jantung atau organ dalam lainnya. Sifilis memiliki beberapa tahapan dengan gejala yang berbeda-beda pada setiap tahapannya, yakni:
  • Gejala Sifilis Primer: Munculnya satu atau lebih luka kecil dan tidak sakit (chancre) di area genital, anus, atau mulut. Luka ini biasanya muncul antara 10 hingga 90 hari setelah paparan bakteri. dan bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu.
  • Gejala Sifilis Sekunder: Ruam kulit yang muncul di seluruh tubuh, termasuk telapak tangan dan kaki. Gejala lain bisa berupa demam, sakit tenggorokan, kelenjar getah bening bengkak, sakit kepala, penurunan berat badan, dan nyeri otot. Ruam dan gejala lain dapat hilang tanpa pengobatan tetapi bisa muncul kembali.
  • Gejala Sifilis Laten: Tahap sifilis laten ini tidak menunjukkan gejala, tetapi bakteri tetap berada dalam tubuh dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun sebelum berkembang ke tahap berikutnya.
  • Gejala Sifilis Tersier: Jika tidak diobati, sifilis dapat berkembang menjadi sifilis tersier yang dapat merusak organ tubuh seperti jantung, otak, hati, saraf, dan pembuluh darah. Komplikasi ini bisa berakibat fatal.

Pengobatan Sifilis Menggunakan Antibiotik

Pengobatan sifilis bertujuan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi dan menghentikan perkembangan penyakit. Cara mengobatinya adalah dengan konsumsi obat antibiotik. Namun, pengobatan sifilis tidak dapat memperbaiki organ yang sudah rusak akibat infeksi bakteri sifilis. Berikut adalah jenis antibiotik yang biasa digunakan mengobati sifilis:
1. Antibiotik Penisilin

Antibiotik ini merupakan pengobatan utama untuk sifilis. Satu suntikan penisilin biasanya cukup untuk mengobati sifilis primer, sekunder, dan laten awal. Untuk sifilis laten lanjut atau tersier, mungkin diperlukan beberapa suntikan. Pada pasien yang alergi terhadap penisilin, dokter mungkin meresepkan antibiotik alternatif seperti doxycycline atau azithromycin, meskipun penisilin tetap menjadi pilihan terbaik.

2. Antibiotik Tetracycline

Bagi pasien yang mengalami sifilis pada tahap awal, antibiotik jenis tetracycline dapat dikonsumsi dengan dosis 50 mg secara oral setiap 6 jam atau empat kali sehari selama dua minggu. Bagi pasien dengan sifilis tahap laten atau yang lebih lanjut, konsumsi tetracycline perlu dilanjutkan hingga 30 hari atau satu bulan penuh.

3. Antibiotik Ceftriaxone

Antibiotik ceftriaxone diberikan dalam dosis 1 gram dan disuntikkan secara intravena, melalui injeksi atau infus ke otot atau pembuluh darah. Pemberian ceftriaxone dilakukan sekali sehari selama 10 hingga 14 hari.

Pencegahan Sifilis

Beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko terkena sifilis meliputi:
  • Penggunaan Kondom: Menggunakan kondom setiap kali berhubungan seksual dapat mengurangi risiko penularan sifilis. Meskipun tidak 100% efektif, kondom sangat membantu dalam mengurangi kontak langsung dengan luka infeksi.
  • Pemeriksaan Rutin: Rutin melakukan pemeriksaan IMS jika aktif secara seksual sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki beberapa pasangan seksual atau berhubungan seks tanpa kondom.
  • Edukasi Seksual: Edukasi tentang praktik seks aman dan risiko IMS sangat penting, terutama di kalangan remaja dan orang dewasa muda. Mengetahui cara-cara penularan dan pencegahan dapat membantu mengurangi penyebaran sifilis.
  • Hindari Kontak Seksual Berisiko: Menghindari kontak seksual dengan orang yang diketahui terinfeksi atau yang memiliki gejala sifilis dapat mengurangi risiko penularan. Menjaga hubungan monogami yang saling setia juga merupakan cara efektif untuk mencegah infeksi.

Hubungi DVX Medical untuk Pengobatan Sifilis Terbaik di Surabaya Bersama Dokter Spesialis Profesional!

Kunjungi DVX Medical Surabaya dan dapatkan pemeriksaan Sifilis yang tepat, cepat, dan aman. Jangan tunda pengobatan Anda, segera periksa sekarang agar sembuh lebih cepat dan Anda bisa kembali beraktivitas seperti semula!

Related Article

Vitiligo: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Vitiligo, kelainan kulit yang ditandai dengan bercak putih p...

Mengenal Eksim: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

Eksim, atau yang lebih dikenal juga dengan dermatitis adalah...

Skin Prick Test, Tes Alergi yang Akurat dan Cepat

Apakah Anda sering mengalami reaksi yang diduga alergi? Jika...

Peringatan WHO: Kasus IMS Meningkat, Sifilis dan Gonore Kebal Antibiotik

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan men...

Bahaya Gonore, Ancaman Serius Bagi Pria dan Wanita Jika Tidak Diobati

Gonore atau dikenal dengan kencing nanah, adalah infeksi men...

Send Message